[TGS 2025] Wawancara Dragon Quest I & II HD-2D Remake dengan Masaaki Hayasaka - Antara Nostalgia dan Inovasi!

Masih dari ajang Tokyo Game Show 2025, tim kami juga berkesempatan duduk bersama Masaaki Hayasaka selaku produser Dragon Quest I & II HD-2D Remake untuk membahas lebih dalam soal gamenya. Menjelang rilisnya di bulan depan, Hayasaka berbagi insight menarik mengenai bagaimana timnya berusaha memodernisasi dua RPG klasik ini tanpa kehilangan pesona aslinya.

Dua game ini punya tempat istimewa dalam sejarah JRPG, yang mana Dragon Quest I sudah memulai debutnya sejak 1986 hingga menjadi salah satu pondasi format JRPG, sementara Dragon Quest II memperluas formula itu dengan sistem party dan dunia yang lebih luas. Kini hampir empat dekade kemudian, keduanya mendapat sentuhan HD-2D yang mengikuti jejak sukses remake Dragon Quest III.

Masaaki Hayasaka – Produser Dragon Quest I & II HD-2D Remake

Menemukan Keseimbangan Antara Tradisional dan Modern

Tantangan utama sebuah remake adalah memuaskan penggemar lama sekaligus menarik pemain baru. Hayasaka menjelaskan konsep inti mereka, “Konsep utama untuk game ini adalah berani mengubah banyak hal dari versi original tanpa mengubah intinya.”

Karena seri original Dragon Quest I dan II cukup ringkas, tim sempat khawatir soal volume konten. “Sejak awal, kami mendengar kekhawatiran dari fans, seperti ‘bagaimana kalau remake ini tetap terasa sekecil seri originalnya?” kata Hayasaka. Kekhawatiran itu tidak hanya dari fans lama. Pemain baru yang terbiasa dengan game modern juga mengharapkan konten lebih dalam.

Karena itu Hayasaka mengatakan, “Untuk memenuhi ekspektasi kedua kelompok ini, kami merasa sangat penting tidak hanya melakukan perubahan besar, tapi juga menambah volume konten agar cukup untuk standar game modern. Tentu kami juga berhati-hati agar jangan sampai inti aslinya hilang dan malah berubah jadi game yang sama sekali berbeda.”

Hasilnya, konten remake ini justru lebih besar dari Dragon Quest III HD-2D. “Awalnya kami mengantisipasi fans akan khawatir soal volume, tapi setelah kami perlihatkan, ternyata hasilnya lebih besar daripada DQ3. Jadi menurut kami sudah lebih dari cukup,” tambahnya.

Menyatukan Trilogi Erdrick

Untuk pertama kalinya, Dragon Quest I dan II diperlakukan sebagai paket berkelanjutan dengan kerangka waktu trilogi Erdrick: DQ3 → DQ1 → DQ2. “Kami menjadikannya sebagai kerangka narasi yang menyambungkan ketiga judul. Jadi meskipun tiap game bisa berdiri sendiri, kami menambahkan elemen yang membuat pemain bisa benar-benar merasakan keterhubungan antarjudul,” jelas Hayasaka.

Meski bisa dimainkan dalam urutan apa saja, tim merekomendasikan mulai dari Dragon Quest III. “Dari perspektif pengembang, kami percaya urutan itu akan membuat pemain paling merasakan ikatan antarjudul dalam trilogi Erdrick,” katanya.

Belajar dari Remake Dragon Quest III

Pengalaman di DQ3 HD-2D banyak membantu, terutama dalam menghadapi beragam ekspektasi penggemar. “Semakin terkenal seri originalnya, semakin beragam pula ekspektasi soal remake. Dan ini bukan hanya dari pemain, tapi juga dari tim pengembang sendiri, karena kami semua tumbuh bersama Dragon Quest. Mustahil memenuhi semua permintaan, jadi kami harus mencari solusi terbaik yang bisa memberi kebahagiaan terbesar bagi banyak orang, sambil mempertimbangkan batas waktu dan teknis.”

Untuk DQ1 & II, tingkat perubahan bahkan lebih luas dibanding DQ3, sehingga proses memilih ide jadi lebih sulit. Tapi Hayasaka menegaskan, “Kami mengembangkan game ini dengan keyakinan bahwa inilah pendekatan terbaik yang akan memberi kebahagiaan terbesar bagi banyak orang.”

Kolaborasi dengan Yuji Horii

Selama pengembangan, Yuji Horii selaku pencipta Dragon Quest ikut terlibat langsung. “Secara umum, kami mengajukan semua draft skenario kepada Horii-san. Soal atmosfer dan pacing, beliau memainkan build kami di berbagai tahap mulai dari mock-up awal, versi parsial, sampai build lebih lengkap. Kami selalu melanjutkan pengembangan dengan memasukkan feedback dari beliau. Jadi, ada keterhubungan yang sangat erat sepanjang proses,” kata Hayasaka.

Membuat Game yang Lebih Ramah untuk Semua Pemain

Versi original Dragon Quest I dikenal lumayan sulit, tapi remake ini mengatasi hal itu dengan menyesuaikan sistem pertempuran, menambah variasi mantra dan peralatan, serta memperbaiki balance. “Kami sadar sebagian fans menganggap Dragon Quest I sangat menantang. Karena itu, kami sepenuhnya menyeimbangkan ulang sistem pertempuran agar pemain merasa lebih nyaman,” jelas Hayasaka.

Fitur baru yang diambil dari feedback DQ3 juga hadir seperti opsi menampilkan lokasi peti harta, menunjukkan kelemahan musuh, dan berbagai update kualitas hidup lainnya. Semua ini membuat game terasa lebih ramah tanpa mengurangi tantangan inti.

Peningkatan Visual dan Sisi Teknis

Secara visual, tim melangkah lebih jauh dibanding DQ3 HD-2D. Salah satu tambahan yang menonjol adalah gerakan diagonal untuk sprite karakter. “Dalam DQ3 kami tidak bisa mewujudkannya karena keterbatasan, tapi kali ini berhasil kami masukkan. Selain itu, kualitas background juga meningkat, misalnya lantai kastil kini punya efek cermin. Tim background memanfaatkan pengalaman dari DQ3 untuk menciptakan hasil yang lebih baik,” kata Hayasaka. Tim developer memilih melanjutkan fondasi dari DQ3 daripada membangun ulang dari nol, agar bisa merilis judul ini lebih cepat.

Karakter dan Cerita Baru

Tambahan besar ada di Dragon Quest II, di mana Princess of Cannock kini bisa dimainkan. “Kami selalu ingin menambahkan sesuatu yang baru, entah itu job atau karakter. Setelah berdiskusi dengan Horii-san, kami sepakat bahwa Princess of Cannock adalah pilihan tepat, ini bisa menambah bobot cerita dan tidak punya hubungan langsung dengan Erdrick,” jelas Hayasaka. Skenario yang diperluas juga membuat tiap karakter lebih banyak bicara, sehingga cerita mereka bisa digali lebih dalam.

Tantangan Produksi dan Antisipasi Anniversary ke-40

Ketika ditanya seberapa sulit dibanding DQ3, Hayasaka menjawab jujur, “Saya akan bilang kalau keduanya sama-sama menantang. Dengan DQ3, itu adalah judul HD-2D pertama kami, jadi butuh waktu lama hanya untuk menetapkan arah grafis. Sementara di DQ1 & II, arah visual sudah jelas, tapi menyesuaikan skenario yang jauh lebih besar sangat menguras waktu dan tenaga. Jadi, bebannya sama berat meski jalurnya berbeda.”

Dengan ulang tahun ke-40 Dragon Quest tahun depan, remake ini terasa lebih istimewa. “Kalau orang menganggap ini hadiah ulang tahun, tidak ada yang lebih membahagiakan bagi kami,” kata Hayasaka sambil tersenyum. “Tahun ini adalah ulang tahun ke-39, dan tahun depan ke-40. Itu pencapaian besar, dan saya yakin pihak atas sudah menyiapkan sesuatu yang sangat menarik.”

Apa yang Menanti di Masa Depan?

Ketika ditanya soal masa depan HD-2D, Hayasaka menjawab hati-hati. “Kami baru saja mengumumkan judul lain dengan HD-2D, jadi saya rasa gaya ini tidak terbatas pada seri tertentu. Kami juga pernah punya Octopath Traveler dengan HD-2D. Apakah pemain bisa berharap judul Dragon Quest lain akan kembali dengan gaya ini? Itu keputusan orang-orang penting di atas saya. Tapi saya percaya HD-2D semakin bersinar ketika dipakai untuk game retro. Itu pasti akan menarik.”

Menutup wawancara, dia menegaskan harapannya agar penggemar lama juga mencoba remake ini. “Kami berharap terutama pemain yang pernah memainkan versi originalnya bisa mencoba remake ini. Karena ada cukup banyak perubahan skenario, mereka yang sudah akrab dengan judul lama mungkin akan terkejut dengan perbedaan di sini. Kami ingin pengalaman itu terasa segar dan baru.”

Jika tertarik dengan gamenya, Dragon Quest I & II HD-2D Remake akan rilis pada 30 Oktober mendatang di PlayStation 5, Xbox Series, Nintendo Switch, dan PC. Kebetulan Square Enix juga ikut memberi konfirmasi kalau gamenya akan kebagian mendapat versi Nintendo Switch 2 bersamaan dengan konsol generasi sebelumnya. Untuk detail lengkap dan terupdate dari trilogi remake seri Dragon Quest pertama bisa kamu cek lewat website resminya DI SINI.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.



Borderlands 4 Rilis 12 September!


Ingin mendapat update terkini dari Borderlands 4? Halaman all-in-one kami sudah merangkum berita, gameplay, ulasan, hingga perbandingan edisi penjualan yang bisa membantumu mendapat semua informasi sebelum memutuskan untuk terjun ke gamenya!



Kunjungi Halaman


Sampai jumpa di Kairos!



Hi guys, kami akhirnya sudah punya akun Twitter dan YouTube resmi! Langsung saja follow:

 

 




Jangan lupa untuk cek channel TikTok kami!

@gamerwk_id

Artikel ini Rangkuman Dari Berita : https://gamerwk.com/tgs-2025-wawancara-dragon-quest-i-ii-hd-2d-remake-dengan-masaaki-hayasaka-antara-nostalgia-dan-inovasi/

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *