Kami dapat kesempatan untuk nyobain lebih dulu Diablo IV: Lord of Hatred, dan dari awal sudah terasa kalau ini bukan sekadar ekspansi biasa. Banyak perubahan besar yang langsung kerasa, mulai dari sistem, class, sampai arah endgame yang sekarang jauh lebih jelas. Setelah beberapa waktu hands-on, kelihatan kalau update ini benar-benar berusaha ngebenerin banyak hal dari versi sebelumnya.
Bukan cuma nambah konten, tapi juga seperti merombak fondasi gameplay-nya supaya lebih solid dan enak diikuti. Dari build yang sekarang lebih fleksibel sampai progression yang terasa lebih terarah, semuanya terasa lebih matang. Di saat yang sama, ekspansi ini juga jadi penutup cerita besar yang sudah dibangun sejak awal, jadi ada kombinasi antara perubahan sistem dan payoff cerita yang cukup kuat. Mari simak review kami!
Penutup Saga dengan Cerita yang Lebih Ngena
Lord of Hatred jadi penutup dari Age of Hatred yang sudah dibangun sejak awal Diablo IV. Ceritanya lanjut setelah DLC Vessel of Hatred dan langsung mendorong Wanderer ke konfrontasi terakhir melawan Mephisto, sang Lord of Hatred, salah satu dari tiga Prime Evils dan kakak tertua dari Diablo serta Baal. Pengaruhnya makin besar dan manipulatif, sampai-sampai mengancam mengubah Sanctuary jadi dunia yang sepenuhnya dipenuhi kebencian.
Di tengah serangan pasukan neraka dan kekuatan kuno dari Pools of Creation yang makin mendekatkan Mephisto ke puncak kekuasaan, nasib manusia benar-benar di ujung tanduk. Untuk menghentikannya, Wanderer harus menerima kenyataan pahit dengan bekerja sama dengan musuh lama yang selama ini dikira sudah mati, yaitu Lilith. Kata-kata terakhirnya yang dulu sempat terasa seperti ramalan, sekarang terbukti benar dan memaksa terbentuknya aliansi yang lahir dari kebutuhan, bukan kepercayaan.

Seiring waktu yang makin menipis dan sekutu yang semakin sedikit, perjalanan menuju akhir terasa sangat mendesak. Tanpa membocorkan terlalu banyak, penutup saga ini terasa sangat pas. Tidak ada cliffhanger menggantung, tapi penuh kejutan, pengorbanan, dan momen yang benar-benar berat secara emosional.
Menariknya, cerita kali ini juga lebih menyorot Lorath sebagai figur sentral. Selama ini Diablo IV memang punya koneksi kuat ke seri sebelumnya lewat Horadric dan karakter seperti Tyrael, tapi belum pernah benar-benar memberi arc yang utuh untuk karakter utama. Di sini, Lorath akhirnya dapat ruang itu, termasuk hubungannya dengan Neyrelle dan masa lalunya, termasuk kisahnya dengan Amazon Queen Adreona yang akhirnya mulai diangkat lebih dalam.
Skovos, Region Baru yang Beda dari Biasanya

Region baru yang diperkenalkan adalah Skovos, tanah paling tua di Sanctuary sekaligus tempat lahirnya peradaban pertama di era nephalem. Tempat ini punya sejarah panjang, pernah dilalui Inarius dan Lilith, dan kemudian jadi rumah bagi peradaban Askari. Meski sudah berkali-kali diserang, Skovos tidak pernah benar-benar ditaklukkan dan sekarang jadi tanah suci para Amazon.

Secara visual, Skovos langsung terasa beda. Kombinasi pantai berbatu, hutan yang dihantam badai, dan reruntuhan kuno bikin region ini terasa sangat khas. Yang cukup mengejutkan, tampilannya justru lebih terang dan hidup dibanding area lain di Diablo IV yang biasanya gelap dan oppressive. Tapi begitu masuk area yang sudah terkorupsi, nuansanya langsung balik ke vibe klasik Sanctuary yang suram dan mengancam.

Musiknya juga ikut mengangkat identitas Skovos. Dengan pendekatan yang lebih fokus dibanding base game, soundtrack di sini terasa lebih besar secara emosional. Penggunaan dua vokalis untuk merepresentasikan dua Queen, ditambah instrumen seperti aulos, lyre, dan electric violin, bikin suasana Skovos terasa unik dan punya karakter kuat.
Dua Class Baru, Paladin dan Warlock
Ekspansi ini memperkenalkan dua class yang didesain sebagai dua sisi dari konflik abadi Diablo: Paladin dan Warlock. Soal kenapa tim memilih menghadirkan Warlock dibanding membawa kembali class favorit seperti Amazon, Associate Game Director Zaven Haroutunian menjelaskan kalau semuanya balik ke hubungan antara dua class baru ini.
Paladin dan Warlock memang didesain sebagai dua sisi dari koin yang sama, mewakili Angels dan Demons, sekaligus jadi representasi dari Eternal Conflict yang selalu jadi inti cerita Diablo, termasuk di ekspansi ini.
Karena Paladin sudah jadi class lama yang kembali, tim juga ingin memastikan ada sesuatu yang benar-benar baru untuk dieksplor pemain. Di situlah Warlock masuk, menawarkan gaya bermain dan identitas yang fresh buat yang ingin sesuatu yang berbeda.
Paladin

Paladin kembali dari Diablo II dan hadir di Diablo IV: Lord of Hatred, bahkan pemain yang melakukan pre-order juga bisa langsung mengaksesnya di base game.

Class ini menggabungkan armor berat ala medieval dan senjata besar dengan kekuatan suci dari Light. Paladin bisa mengaktifkan aura kuat, memanggil senjata suci untuk menghajar musuh, dan jadi garis pertahanan yang sangat sulit ditembus di medan perang.

Banyak pemain sudah mencoba Paladin di Season 12, dan saat ini posisinya nyaman di tier atas. Class ini sangat kuat untuk speed farming, dengan gameplay yang terasa halus, cepat, dan sangat efisien.
Warlock

Warlock adalah pengguna sihir yang sudah mencapai puncak kekuatannya, bahkan bisa menarik demon langsung dari Hell untuk dijadikan pelayan. Dengan tema infernal insight, class ini berbasis willpower dan identik dengan rantai serta api neraka. Skill-nya fokus ke demonology, api, dan shadow, membuatnya jauh lebih kompleks untuk dikuasai dibanding class yang lebih simpel seperti Paladin.

Dalam pertarungan, Warlock menggunakan dua resource, yaitu Wrath dan Dominance. Wrath dipakai untuk mengeluarkan skill, sementara Dominance digunakan untuk summon demon. Gameplay-nya berputar di kombinasi chaining, mulai dari summon, modifikasi, konsumsi, sampai detonasi demon untuk memperkuat skill berikutnya. Bahkan ultimate-nya memungkinkan berubah menjadi demon.

Warlock juga punya sistem Soul Shards, yang memungkinkan summon demon jangka panjang yang mengikuti pemain sesuai build. Contohnya, build berbasis Hellfire bisa memanggil Abodian sebagai companion permanen.

Untuk pemain yang baru mulai, disarankan build Demonology sebagai titik awal yang kuat. Dengan menggabungkan skill Demonology dan Ae’grom, demon dari Legion Soul Shard, pemain bisa memanggil gelombang demon tanpa henti untuk membanjiri musuh.
Build ini berfokus pada kemampuan Ae’grom yang bisa memunculkan banyak demon kecil, lalu diperkuat dengan skill seperti Command Fallen dan Bombardment untuk menghasilkan lebih banyak summon. Ditambah ultimate Fiend of Abaddon, hampir tidak ada yang bisa menghentikan build ini.
Rework Sistem Besar-Besaran
Ekspansi ini membawa perubahan sistem yang cukup besar dan langsung berdampak ke semua delapan class, bahkan untuk pemain yang tidak membeli ekspansinya sekalipun. Mulai dari rework penuh skill tree, penambahan variasi skill, kenaikan level cap, sampai endgame yang sekarang diperluas hingga Torment 12 yang dibuka lewat progres di The Pit. The Pit sendiri juga ikut diperluas dengan lebih banyak musuh, boss, dan variasi area, termasuk encounter langka yang hadiahnya jauh lebih menggiurkan.
Selain itu, ada juga sistem baru seperti Talisman yang memungkinkan efek mirip set item, tapi dengan pendekatan yang lebih fleksibel. Di sisi lain, sistem crafting juga dirombak dengan inspirasi dari Horadric Cube, bikin pengolahan gear terasa lebih dalam dan tidak sekadar bergantung pada drop.
Secara keseluruhan, update ini terasa seperti fondasi ulang untuk gameplay Diablo IV. Banyak sistem lama yang diperbaiki atau disempurnakan, sehingga loop permainan sekarang terasa lebih jelas, lebih padat, dan jauh lebih rewarding dibanding sebelumnya.
Skill Tree Untuk Class Dirombak

Perubahan paling terasa ada di skill tree yang sekarang dirombak total untuk semua class. Desain barunya lebih fokus ke penguatan skill secara langsung, bukan lagi sekadar upgrade stat generik. Node sekarang benar-benar memodifikasi kemampuan tertentu, jadi tiap pilihan terasa lebih berdampak.
Hasilnya, skill tree jadi jauh lebih fleksibel dan terbuka. Kalau ingin fokus ke build tertentu seperti Hellfire, sekarang bisa benar-benar all-in tanpa harus terganggu oleh atribut yang tidak nyambung. Semua terasa lebih sinkron dengan arah build yang dipilih.
Hal ini juga membuka ruang eksperimen yang jauh lebih luas. Druid bisa benar-benar fokus ke Werewolf, Human, atau Werebear, sementara Barbarian pun sekarang bisa mencoba build berbasis summon, sesuatu yang sebelumnya hampir tidak kepikiran.
War Plans

War Plans jadi salah satu sistem endgame utama yang bikin farming terasa lebih terarah. Pemain bisa menyusun jalur endgame sendiri dengan memilih hingga lima aktivitas seperti The Pit, Infernal Hordes, Helltides, Nightmare Dungeons, Lair Bosses, atau Kurast Undercity, dan semuanya bisa diatur sesuai urutan yang diinginkan lengkap dengan modifier.
Begitu War Plan disusun, semua aktivitas bisa langsung diakses dari map tanpa ribet. Setiap progres juga akan mengisi tree khusus War Plans yang berisi node skill dan reward tambahan, memberikan kontrol yang lebih besar terhadap perkembangan karakter di endgame.
Buat pemain baru maupun lama, sistem ini terasa sangat membantu karena menjawab pertanyaan klasik “harus ngapain sekarang?” dengan cara yang jelas, terstruktur, tapi tetap seru. Dari pengalaman langsung, War Plans bikin gameplay terasa lebih fokus dan tetap rewarding meskipun diulang berkali-kali.
Item Power Changes dan Horadric Cube Kembali

Kembalinya Horadric Cube jadi salah satu perubahan paling signifikan di sisi itemisasi. Sistem ini memungkinkan pemain untuk menambah affix, mengubah atau menghapus properti, bahkan mengubah gear jadi versi yang lebih kuat. Ketergantungan pada RNG jadi berkurang, dan pemain punya kontrol lebih besar terhadap perkembangan build mereka.

Horadric Cube baru bisa diakses mendekati akhir campaign, tepatnya di Temis dekat Waypoint setelah cerita selesai. Dengan berbagai resep yang tersedia, pemain bisa upgrade gear lama, membuat item baru yang sesuai build, dan menyempurnakan loadout untuk kebutuhan endgame.
Di saat yang sama, sistem item juga ikut berubah. Unique sekarang punya stat yang lebih random, tapi power-nya masih bisa di-roll ulang. Legendary juga bisa diubah, walaupun tetap cukup bergantung pada RNG. Ada juga sistem Transfigure yang bisa menambah affix tambahan, tapi dengan konsekuensi item jadi terkunci dan tidak bisa diubah lagi setelah digunakan.
Charms & Talismans System

Sistem Charms dan Talismans menambah lapisan baru dalam build tanpa harus mengorbankan slot equipment utama. Charms bisa dipasang ke Talismans untuk mengaktifkan efek tertentu, dan kombinasi tertentu bisa membuka bonus seperti set item.
Sekilas mirip dengan sistem set di Diablo III, tapi implementasinya jauh lebih fleksibel. Pemain bisa menyesuaikan build sesuai kebutuhan tanpa harus terpaku pada satu set tertentu. Contohnya, kalau ingin fokus farming gold, tinggal pasang charms yang meningkatkan perolehan gold. Sistem ini simpel tapi efeknya terasa signifikan dalam jangka panjang.
Konten Endgame Baru, Echoing Hatred

Echoing Hatred adalah aktivitas endgame berbasis challenge yang cukup unik. Aktivitas ini dipicu dari drop khusus dan menghadirkan musuh yang terus berkembang, tingkat kesulitan yang meningkat, serta reward yang ikut naik seiring progres.
Secara konsep, ini mirip dengan Greed Realm di Diablo III, tapi dengan sistem yang jauh lebih kompleks. Aktivitas ini hanya bisa diakses di Torment 1 ke atas, jadi memang ditujukan untuk build yang sudah matang. Untuk masuk, pemain harus mendapatkan item Trace of Echoes yang drop dari musuh di Skovos, lalu masuk lewat portal Sightless Eye Disciple yang berada di utara waypoint Temis.
Sekarang Ada Loot Filter

Loot filter akhirnya hadir sebagai salah satu peningkatan kualitas hidup paling penting. Sistem ini memungkinkan pemain untuk menyaring dan menyorot item yang benar-benar dibutuhkan.
Dengan banyaknya loot di endgame, fitur ini sangat membantu agar pemain tidak perlu lagi memilah item satu per satu secara manual. Hasilnya, gameplay jadi lebih efisien dan fokus ke hal yang benar-benar penting, terutama saat berburu item endgame.
Perubahan Penting dari Vessel of Hatred ke Lord of Hatred

- Overpower, Resolve, dan Berserk sekarang berubah secara mekanik, tidak lagi seperti sebelumnya
- Unique dan Mythic gear sekarang bisa di-temper
- Semua passive dihapus, jadi stacking crit %, cooldown, dan attack speed sekarang jauh lebih terbatas, hanya bisa didapat dari paragon dan gear
- Senjata yang punya stat bawaan seperti Axe dengan damage overtime sudah dihapus, sekarang senjata jadi lebih mirip satu sama lain selain perbedaan attack speed
- Affix multiplier berbasis tipe damage sekarang jadi faktor utama untuk meningkatkan damage
- Gems di senjata sekarang memberikan multiplier damage tipe tertentu, bukan lagi crit damage atau vulnerable damage
- Senjata tidak lagi punya efek % untuk skill menghasilkan double damage
- Sebagai gantinya, senjata sekarang bisa dapat Crit% lewat sistem temper
- Setelah mencapai level 70, tidak wajib lagi investasi besar di skill utama untuk membuka skill tier tinggi
- Banyak Legendary Aspect dirombak atau dimasukkan langsung ke dalam skill tree, termasuk juga beberapa efek dari Unique gear
Kesimpulan

Diablo IV: Lord of Hatred terasa seperti overhaul besar yang bikin game ini berasa fresh lagi, dan lebih mendekati pengalaman Diablo yang selama ini dicari pemain. Skill tree yang didesain ulang bikin build tiap class jadi jauh lebih fleksibel, jadi tidak lagi terasa dihukum hanya karena memilih build yang berbeda. Progression juga makin banyak arah yang bisa dikejar, apalagi sekarang stat item Unique dibuat lebih random.
Di sisi lain, ada juga konsekuensi yang cukup terasa. Stat yang dulu relatif gampang di-stack seperti critical strike chance dari skill tree atau gear, sekarang lebih bergantung ke equipment. Karena tidak lagi banyak didukung dari skill tree, pemain harus lebih fokus ke gear, yang berarti sering harus kompromi soal pilihan stat.
Untuk ceritanya sendiri, penutupnya terasa bersih dan memuaskan tanpa meninggalkan banyak hal menggantung. Secara keseluruhan, ini jadi momen yang pas buat pemain baru untuk mulai, atau pemain lama untuk balik lagi, karena ekspansi ini mengambil elemen terbaik dari versi sebelumnya lalu menyempurnakannya. Dengan tambahan seperti War Plans, arah permainan juga jadi lebih jelas, terutama dalam loop utama berburu loot dan grinding.
Diablo IV: Lord of Hatred akan dirilis pada 28 April untuk PlayStation 4, PlayStation 5, Xbox Series dan juga PC melalui Steam dan Battle.net. Kamu bisa kunjungi situs resminya DI SINI untuk berbagai informasi lebih lanjut.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id
The Review
Diablo IV: Lord of Hatred
PROS
- Cerita ditutup dengan rapi dan memuaskan tanpa ada yang menggantung, penutup Age of Hatred terasa pas
- Skill tree yang dirombak total bikin build jauh lebih fleksibel dan bisa lebih fokus ke satu playstyle
- War Plans menjawab kebingungan “harus ngapain sekarang?”, bikin endgame lebih jelas buat pemain baru maupun lama
- Kembalinya Horadric Cube ngurangin ketergantungan ke RNG, jadi pemain punya kontrol lebih ke gear
- Loot filter akhirnya hadir dan jadi peningkatan kualitas hidup yang sangat terasa
CONS
- Stat seperti critical strike chance sekarang dipindah ke gear, jadi harus lebih banyak kompromi di affix item
- Unique item punya stat yang lebih random, meskipun power-nya bisa di-roll ulang, RNG tetap terasa cukup berat
Artikel ini Rangkuman Dari Berita : https://gamerwk.com/review-diablo-iv-lord-of-hatred-ekspansi-yang-bikin-game-ini-terasa-baru/