Review Call of Duty: Black Ops 7 - Harusnya Bagus, Tapi Berasa Kurang Matang

Call of Duty: Black Ops 7 akhirnya datang dan dari awal sudah kerasa kalau game ini punya ambisi besar banget. campaign-nya mencoba membawa Black Ops ke arah yang lebih mind-bending dengan halusinasi kolektif, teknologi saraf aneh, dan konspirasi baru yang lebih liar dari sebelumnya. Sekilas memang terdengar keren, apalagi seri Black Ops selalu identik dengan plot psikologis yang penuh twist.

Tapi eksekusinya malah terasa jauh dari identitas Call of Duty sampai-sampai kayak main game genre lain. Untung Multiplayer masih jadi nilai jual utama. Kami mendapatkan kesempatan untuk main dan review Call of Duty: Black Ops 7. Seperti apa detailnya? Mari simak artikelnya!

Cerita yang Penuh Eksperimen dan Krisis Identitas

Call of Duty: Black Ops 7 membawa pemain ke tahun 2035, mengikuti kisah David Mason yang kini memimpin tim elit JSOC setelah siaran misterius dari Raul Menendez—tokoh lama yang dikira sudah mati—tiba-tiba muncul dan mengaku bertanggung jawab atas serangkaian serangan global. Namun ancamannya tidak berhenti di situ. Menendez menyebut adanya proyek bioweapon bernama Cradle, gas merah beracun yang bisa menimbulkan halusinasi bersama antar manusia.

Ceritanya terdengar seperti tema klasik Black Ops — konspirasi, eksperimen otak, dan manipulasi psikologis. Tapi kali ini, tim Mason punya alat baru yang disebut C-Link, implan saraf di otak yang memungkinkan semua anggota tim saling merasakan halusinasi, ketakutan, bahkan kenangan satu sama lain secara langsung. Ide ini sebenarnya menarik, tapi eksekusinya membawa game ini ke arah yang cukup aneh.

Call of Duty: Black Ops 7

Dari misi pertama saja, arah cerita dan gameplay-nya terasa janggal untuk ukuran Call of Duty. Bukannya misi militer dengan bumbu teknologi futuristik, justru berubah menjadi aksi yang mendekati survival horror. Tiba-tiba kamu melawan monster halusinasi raksasa, atau bunga bermutasi yang melahirkan laba-laba kecil dengan bola peledak. Saat itu terjadi, game ini mulai terasa bukan Call of Duty lagi.

Konsep gas Cradle dan halusinasi kolektif sebenarnya punya potensi, tapi bentuk eksekusinya terasa lebih seperti mimpi buruk dari game lain. Campaign di Black Ops 7 bukan sepenuhnya looter shooter, tapi mengambil beberapa elemen RPG ringan seperti upgrade senjata dan peningkatan rarity. Masalahnya, peningkatan itu hanya berupa tambahan damage sederhana tanpa efek yang berarti, sehingga sistem RPG-nya terasa setengah hati.

Call of Duty: Black Ops 7

Lebih parahnya lagi, sistem co-op campaign juga kurang mulus. Bahkan ketika fitur “squad fill” dimatikan, game tetap memaksa matchmaking. Dan sering kali hanya menemukan satu pemain lain per sesi, yang membuat pacing dan keseimbangan misi jadi aneh saat dimainkan sendirian. Beberapa bagian campaign jelas dirancang untuk dua atau tiga pemain, jadi jika dimainkan solo, terasa berat sebelah.

Kombinasi antara sistem upgrade, matchmaking paksa, dan musuh yang terasa seperti makhluk dari dunia lain, membuat campaign ini kehilangan arah. Black Ops 7 memang mencoba sesuatu yang baru, tapi untuk kali ini, eksperimennya terasa belum matang.

PvE Baru yang Justru Lebih Menarik

Setelah menyelesaikan campaign, pemain membuka mode baru bernama Endgame, dan inilah bagian yang terasa paling segar. Mode ini adalah PvE extraction-style di mana pemain turun ke satu peta besar dengan waktu 50 menit, bersama hingga 32 pemain lain. Semua berlomba menyelesaikan aktivitas PvE sebanyak mungkin untuk mendapatkan EXP dan meningkatkan Combat Rating.

Tiap kali naik Combat Rating, pemain akan mendapat dua pilihan skill unik. Skill ini terbagi dalam pohon kemampuan seperti Gunner, Bulldozer, dan Berserker, membuat tiap karakter berkembang dengan gaya berbeda. Karena pilihan hanya muncul dua setiap naik level, build setiap pemain akan terbentuk secara semi-acak.

Call of Duty: Black Ops 7

Peta dibagi menjadi beberapa Zone berdasarkan tingkat kekuatan musuh, mulai dari Zone I (level rendah) hingga Zone IV (musuh brutal). Pemain bisa masuk ke zona yang lebih tinggi, tapi risikonya jauh lebih berat.

Ketika waktu hampir habis, pemain harus mengekstraksi dengan VTOL, mirip seperti game extraction shooter, tapi tanpa unsur PvP. Jika berhasil keluar hidup-hidup, semua loot dan progres tetap disimpan. Bahkan jika satu operator mati, progres operator lain tetap aman.

Endgame berhasil jadi ruang bermain santai bagi pemain yang ingin pengalaman PvE murni, tanpa harus main Zombies atau mengulang campaign. Ini mode yang solid, dan kalau terus dikembangkan, bisa jadi pondasi baru untuk masa depan Call of Duty.

Multiplayer dan Zombies Masih Jadi Bintang Utama

Kalau campaign terasa seperti kehilangan arah, multiplayer justru tampil dengan percaya diri. Ada tujuh mode permainan saat rilis, lengkap dengan koleksi peta yang variatif. Sistem progresi terasa familiar tapi dalam, memberi alasan untuk terus grinding demi membuka senjata, attachment, field upgrade, dan scorestreak baru.

Fitur Combat Specialties kini memungkinkan pemain mencampur dua spesialisasi utama, menciptakan kombinasi efek dan build yang lebih bebas dari sebelumnya. Ini membuat strategi jadi jauh lebih fleksibel.

Scorestreak juga tampil gila. Pemain bisa memanggil mecha Rhino, mengerahkan HKDs (drone roda dua yang meledak saat menabrak musuh), atau bahkan D.A.W.G., anjing robot bersenjata lengkap dengan turret dan roket. Semua terasa berlebihan tapi pas di dunia futuristik Black Ops.

Call of Duty: Black Ops 7

Sementara itu, sistem Omnimovement dari Black Ops 6 kembali lagi, dan kali ini ditambah dengan wall-jumping. Hasilnya? Pertarungan jadi lebih cepat, lebih vertikal, dan lebih acak tapi seru.

Mode Zombies juga mengalami peningkatan besar. Peta kini terasa kembali seperti Zombies klasik — penuh misteri, struktur aneh, dan suasana mencekam. Ada empat tingkat kesulitan, dukungan solo dan squad, serta sistem progression save untuk pemain solo yang sangat membantu. Sistem augment memperkuat karakter di tiap run, membuat tiap sesi terasa lebih bermakna.

Bahkan ada mode third-person bagi yang hanya ingin menikmati kekacauan tanpa tekanan tinggi. Zombies kali ini benar-benar kembali ke akar dan berhasil menghadirkan pengalaman klasik yang segar.

Call of Duty: Black Ops 7

Kesimpulan

Call of Duty: Black Ops 7 adalah game dengan dua kepribadian yang sangat kontras. Di satu sisi, campaign mencoba ide baru yang berani, tapi hasilnya justru membingungkan dan tidak konsisten. Elemen halusinasi dan konsep bioweapon sebenarnya menarik, tapi saat berubah jadi pertarungan monster dan horror abstrak, game ini kehilangan ciri khasnya sebagai Call of Duty.

Namun di sisi lain, multiplayer dan Zombies tetap kuat, bahkan lebih matang dari sebelumnya. Pergerakan yang lincah, sistem progresi yang dalam, scorestreak yang gila, dan mode PvE Endgame yang segar menjadikan sisi online game ini sangat solid dan tahan lama.

Kalau kamu membeli Call of Duty untuk aksi cepat dan mode multipemainnya, Black Ops 7 masih layak dimainkan. Tapi kalau kamu datang untuk cerita militer yang kuat dan atmosfer Black Ops klasik, kali ini mungkin tidak akan memuaskan.

Call of Duty: Black Ops 7 sudah resmi dirilis dan bisa kamu mainkan di PlayStation 5, Xbox Series, dan juga PC. Kamu bisa kunjungi situs resminya DI SINI untuk berbagai informasi lebih lanjut.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.

Hi guys, kami akhirnya sudah punya akun X dan YouTube resmi! Langsung saja follow:

 

 




Jangan lupa untuk cek channel TikTok kami!

@gamerwk_id

The Review

Call of Duty: Black Ops 7

PROS

  • Multiplayer cepat, kacau, dan sangat bisa dikustomisasi.
  • Omnimovement dan wall-jumping bikin pertempuran makin dinamis.
  • Mode Zombies lebih atmosferik dengan progresi jangka panjang.
  • Mode PvE Endgame jadi tambahan yang menyegarkan.

CONS

  • Campaign kehilangan identitas dan terasa bukan Call of Duty.
  • Sistem upgrade senjata di campaign kurang berdampak.
  • Matchmaking paksa membuat mode co-op sulit dinikmati solo.
  • Campaign terlalu bergantung pada desain multiplayer.

Artikel ini Rangkuman Dari Berita : https://gamerwk.com/review-call-of-duty-black-ops-7-harusnya-bagus-tapi-berasa-kurang-matang/

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *