Kita sudah tahu kalau eksistensi AI saat ini masih belum bisa diterima banyak pihak, seperti sektor kreatif yang merasa adanya ancaman akan lapangan kerja, hingga konsumen karena mereka lebih mengutamakan produk buatan manusia asli. Tapi bagi sebagian pihak lain termasuk developer game, AI jadi semacam solusi baru demi mendorong efisiensi dan penghematan resource dalam proses pengembangan. Melihat bagaimana semakin banyak developer dan kreator tidak ragu mengakui adanya penggunaan AI dalam karya mereka, Kazutaka Kodaka dari Too Kyo Games merasa kalau game barunya yaitu The Hundred Line -Last Defense Academy- memang berpotensi jadi game cerita masif terakhir dalam sejarah yang dibuat tanpa bantuan AI.
Many game companies and creators have started openly talking about their use of AI.
At this rate, Hundred Line might truly become the last grand, 200-hour game story in human history written entirely without AI. pic.twitter.com/AX9e2S8Hau— Kazutaka kodaka/小高和剛 (@kazkodaka) December 20, 2025
Ungkapan ini sebenarnya sudah sempat muncul lewat video documentary dari channel YouTube Archipel, di mana Kotaro Uchikoshi selaku salah satu director utama The Hundred Line merasa kalau karya yang mereka buat ini memang begitu masif dari segi volume, dan dengan semakin pesatnya perkembangan AI, sulit dibayangkan kalau ada kreator yang mau meracik proyek semacam The Hundred Line tanpa campur tangan dari teknologi tersebut. Bahkan untuk artwork saja, Rui Komatsuzaki selaku sang artist berhenti menghitung seberapa banyak sprite karakter yang dia gambar, tapi perkiraan kasar berada di atas 2000 dan bagaimana dia mengaku tidak ingin terlibat dalam proyek dengan skala sebesar ini lagi.
Untuk memberi gambaran seberapa besar skala konten dalam The Hundred Line, ini adalah game dengan jalan cerita bercabang yang bisa membawa pemain ke 100 ending berbeda. Ada lebih dari 20 rute utama yang masing-masing memiliki genre berbeda, di mana mereka sampai melibatkan peran dari lebih 10 penulis cerita yang memegang rute berbeda. Bagi pemain yang ingin menamatkan semua kontennya butuh komitmen besar, karena waktu yang dibutuhkan bisa sampai melebihi 200 jam. Saking masifnya, skrip cerita dalam game ini diklaim bisa cukup untuk dicetak jadi 60 novel.
Tidak berhenti sampai di situ, Kodaka bahkan berniat untuk bisa mengekspansi The Hundred Line di masa depan dengan potensi DLC yang menambah rute cerita baru. Membuat game dengan skala sebesar ini tanpa bantuan AI memang terbukti sangat berat, dan Too Kyo Games bahkan sampai berada di ambang kebangkrutan semisal proyek ini gagal. Tanpa mimpi ambisius dan nekat dari Kodaka selaku sang kreator yang bisa saja kehilangan timnya, mungkin kita tidak akan mendapat game semacam The Hundred Line, dan sulit rasanya membayangkan kalau ada kreator lain yang berani menyaingi skala kontennya apalagi tanpa ada campur tangan AI.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id
Artikel ini Rangkuman Dari Berita : https://gamerwk.com/the-hundred-line-mungkin-adalah-game-cerita-besar-terakhir-yang-dibuat-tanpa-ai/