Review Towa and the Guardians of the Sacred Tree - Roguelite Charming yang Bikin Serasa Main JRPG!

Brownies yang sebelumnya lumayan dikenal sebagai developer dibalik seri Doraemon Story of Seasons telah kembali berkolaborasi dengan Bandai Namco untuk game barunya yaitu Towa and the Guardians of the Sacred Tree. Mengikuti impresi kami di preview kemarin, gamenya berujung menawarkan pengalaman roguelite yang lumayan unik dengan fokus tidak terduga pada porsi cerita padat, sesuatu yang memang lumayan jarang bisa didapat dari game di genre serupa.

Setelah berkesempatan memainkan gamenya lebih jauh, apakah pengalaman bermain yang ditawarkannya terbukti lebih menarik perhatian? Langsung saja simak review lengkap kami di bawah ini!

Jalan Cerita

Berlatar di dunia fantasi bernuansa Jepang klasik, gamenya berfokus pada kisah petualangan seorang gadis sakti bernama Towa yang diutus oleh dewa Shinju untuk menjaga ketenteraman sebuah desa kecil yang dihuni para pengikutnya. Desa tersebut berada di dekat pohon agung yang menjadi tempat bersemayam sang dewa, namun perlindungan itu tidak berlangsung selamanya, karena ancaman muncul dari dewa jahat bernama Magatsu yang berusaha mengacaukan aliran mana sekaligus melahirkan makhluk-makhluk buas yang dikenal dengan sebutan Magaori.

Seiring waktu, para Magaori terus melahap mana dan menebarkan miasma beracun ke berbagai wilayah. Meski begitu desa Shinju tetap aman berkat perlindungan Towa bersama delapan sahabat setianya yang dijuluki “Prayer Children.” Perjuangan mereka tidak selalu mulus, karena ada momen di mana Magatsu berhasil memisahkan Towa dari rekan-rekannya, yang mana mereka dilempar ke dunia lain dengan aliran waktu berbeda. Dari sinilah Towa harus berusaha membebaskan mereka agar bisa kembali peluang sembari berusaha menyelamatkan desa dari ancaman yang terus tumbuh.

Mengingat banyak game bergenre serupa lebih memprioritaskan gameplay daripada cerita, kami cukup terkejut ketika mendapati Towa and the Guardians of the Sacred Tree justru menyajikan narasi yang padat. Mulai dari porsi pembuka dengan ilustrasi indah yang diiringi narasi lembut, hingga interaksi antar karakter baik di desa maupun sepanjang ekspedisi, rasanya nyaris tidak ada momen di mana para karakter terkesan pasif. Tidak hanya di jam-jam pertama, kamu akan selalu mendapati porsi cerita yang selalu berisi dan semakin emosional seiring jalannya progress.

Seperti yang sempat kami bahas di preview dulu, pengalaman yang ditawarkannya bahkan terasa seperti memainkan JRPG atau visual novel ketimbang roguelite standar. Karena itu bagi pemain yang menyukai cerita dengan bobot naratif kuat kemungkinan besar akan menghargai pendekatan ini. Untuk semakin memudahkan akses ke kontennya, game ini ikut menyediakan opsi tingkat kesulitan “Story Mode” untuk mereka yang ingin menikmati cerita tanpa harus berkutat pada gameplay dengan progres brutal. Tingkatannya bisa diubah ke “Normal” kapan saja bagi yang ingin ekstra tantangan lebih, meski kami pribadi merasa standar kesulitannya masih relatif ringan untuk ukuran roguelite.

Masih berbicara soal cerita, bagian lain yang paling kami apresiasi ada di para karaternya. Meski tidak semua dari mereka meninggalkan kesan yang membekas, tapi kami bisa mengapresiasi beberapa di antaranya yang sukses membuat game ini begitu menarik untuk diikuti. Pujian terbesar kami apalagi tertuju pada sang heroine sendiri yaitu Towa, karena dibalik pembawaannya yang nampak seperti gadis suci dan begitu ramah, dia ternyata punya sisi kocak yang membuatnya terasa lebih relatable dari penampilan.

Ada banyak momen di mana dia terlibat dalam percakapan yang diselipi guyonan refreshing. Konomi Kohara selaku pengisi suara Jepangnya terasa sangat cocok untuk Towa, dan bagaimana beragam momen guyonannya langsung mengingatkan kami pada karakter anime populer yang ikut dia bawakan yaitu Chika dari seri Kaguya Sama. Selebihnya karakter lain tidak kalah menarik, dan bagaimana mereka ikut memperlihatkan sisi lebih personalnya yang tidak hanya dituangkan di cerita, tapi pada sela-sela gameplay setiap kali kamu memasangkan dua karakter dalam satu ekspedisi.

Aspek Roguelite yang Relatif Standar

Beralih ke gameplay, kesan kami tidak banyak berubah dari versi preview yang mana game ini terasa solid dan punya identitas yang jelas. Salah satu daya tarik utamanya ada pada sistem pemilihan karakter, di mana pemain membentuk tim berisi dua orang dengan peran berbeda. Peran pertama adalah Tsurugi, petarung utama yang akan kamu kendalikan sepanjang permainan, sementara peran kedua adalah Kagura, partner pendukung yang ahli dalam serangan jarak jauh. Kamu juga bisa mengganti kendali ke Kagura secara manual jika diperlukan.

Semua karakter Prayer Children bisa dimainkan, dengan gaya bertarung yang disesuaikan baik untuk peran Tsurugi maupun Kagura. Meski begitu, pemain diberi kebebasan penuh untuk bereksperimen dengan berbagai kombinasi. Pertarungan Tsurugi berfokus pada pertempuran jarak dekat dengan dua jenis pedang: Honzashi dan Wakizashi. Senjata ini tidak bisa digunakan tanpa batas karena punya daya tahan yang rapuh, sehingga kamu harus menukarnya dengan mekanik Quick Draw yang juga memiliki waktu pemulihan.

Sistem ini memaksa pemain menggunakan seluruh kemampuan karakter dan mencegah pertarungan terasa monoton, meskipun membuat ritme pertempuran jadi terasa lebih lambat—terutama jika kamu belum terbiasa dengan alurnya. Misalnya, Wakizashi memiliki serangan berat berbasis charge yang paling efektif digunakan sambil menjaga jarak dari musuh, khususnya boss. Setelah Honzashi siap lagi setelah cooldown, kamu bisa kembali ke gaya bertarung yang lebih agresif dengan tebasan cepatnya. Di luar itu, ada jurus pamungkas Fatal Blow, sebuah teknik berbasis mana yang memberi kekebalan sementara dan sering menjadi penentu kemenangan di pertarungan sulit.

Untuk Kagura, perannya adalah sebagai pendukung jarak jauh. Awalnya, opsi untuk mengendalikannya secara manual terasa tidak begitu penting, tapi kesan kami berubah drastis ketika beralih dari mouse-and-keyboard ke kontroler. Dengan keyboard, kendali terasa canggung: satu tangan harus mengatur Kagura, sementara tangan lain tetap di mouse untuk Tsurugi. Jika dibiarkan otomatis, Kagura sering menempel terlalu dekat dengan Tsurugi, sehingga berbahaya saat melawan kelompok musuh atau boss. Namun, dengan kontroler, segalanya terasa jauh lebih mulus karena stik analog kiri dan kanan memungkinkan kamu mengatur keduanya dengan lebih nyaman.

Sayangnya, pengalaman bermain dengan mouse-and-keyboard masih terasa kurang memuaskan. Serangan terkunci ke arah pergerakan karakter tanpa opsi free aiming lewat mouse, sehingga kontrol terasa kaku dan membatasi kelincahan. Hal ini cukup memengaruhi kesenangan bermain, terutama jika dibandingkan dengan game PC lain dalam genre serupa yang jauh lebih responsif. Karena itu kami sangat menyarankan bermain menggunakan kontroler.

Untuk elemen roguelite, pendekatannya cukup sederhana. Kamu akan menjelajahi jalur bercabang, mengalahkan gelombang musuh, mendapatkan hadiah berdasarkan performa, dan memperkuat karakter dengan buff atau artefak khusus bernama Grace. Setiap Grace memiliki tingkatan kelangkaan, dan bahkan yang umum sekalipun memberi efek bermanfaat, jadi pemain baru tidak akan kewalahan dalam memilih. Sepanjang perjalanan, kamu juga akan mengumpulkan material untuk meningkatkan status atau berinvestasi pada berbagai peningkatan.

Beberapa sumber daya bisa digunakan untuk lebih dari satu hal, jadi memutuskan apakah akan dipakai atau disimpan menjadi sangat penting. Misalnya, Valoric Ore bisa dihabiskan untuk kosmetik, tapi jauh lebih berharga jika diinvestasikan ke pembangunan fasilitas yang benar-benar meningkatkan progres—terutama saat desa berkembang ke era selanjutnya.

Mekanisme Time Leap yang Lumayan Keren

Waktu adalah tema penting dalam gamenya, dan ini juga ikut dicerminkan lewat progressmu yang bisa mengubah timeline Shinju Village yang seolah sudah berevolusi selama berpuluh-puluh tahun. Karena mengandung spoiler, kami tidak akan mendiskusikannya terlalu dalam, tapi intinya kamu akan mendapati perubahan besar di desa yang menjadi area hub utama bergantung pada progress cerita. Tidak hanya dari desain bangunan hingga jalanan yang lebih terkesan maju seiring berjalannya waktu, tapi para penghuninya juga ikut tumbuh lebih tua dan hadir dengan desain baru.

Lebih dari sekedar untuk memfasilitasi tema ceritanya, desa yang ikut tumbuh tentu juga akan membantu perkembangan karaktermu untuk menjadi lebih kuat, apalagi dengan beragam fasilitas penting serta opsi lain yang wajib untuk terus kamu selami lebih dalam di sela-sela menyelesaikan ekspedisi. Secara konsep, game ini berhasil merealisasikannya dengan cukup manis dan bisa membuatmu punya ikatan emosional lebih kuat dengan Shinju Village sendiri, terutama lewat interaksi dengan para NPC-nya yang tidak kalah memorable.

Art Direction hingga Konten Sampingan

Sulit rasanya membahas game ini tanpa memberi spotlight ke sisi art directionnya. Setelah berkesempatan untuk memainkannya lebih lama pada review ini, Towa memperlihatkan lebih banyak pemandangan indah, desain karakter berkualitas, hingga keseluruhan nuansa game yang begitu atmosferik. Datang dari developer dibalik seri Doraemon Story of Seasons, mereka sepertinya kembali memanfaatkan spesialisasi dalam meracik wujud game dengan presentasi layaknya lukisan yang bisa memberi kesan nyaman, tapi kali ini dengan kualitas yang semakin terasa kuat.

Mengesampingkan Towa dan para Prayer Children yang sempat kami puji di sisi desainnya, para NPC di game ini juga berakhir tidak kalah menarik, apalagi berkat konsep time leap yang membuat mereka punya ruang untuk tumbuh dewasa. Melihat karakter yang terkesan cupu di awal, tapi kemudian jadi sosok badass setelah tumbuh dewasa adalah satu dari beragam momen paling rewarding di game ini, apalagi karena transformasi tersebut berpusat pada progressmu yang memicu pergerakan timeline.

Mengesampingkan konten utamanya, game ini punya beragam distraksi yang cukup seru dan bisa jadi opsi untuk mendukung kegiatan grindingmu. Satu yang terutama patut kami puji adalah mini game menempa senjata, dan bagaimana sistemnya punya kompleksitas diluar dugaan kami. Jadi berbeda dari kebanyakan game lain, proses menempa senjata dalam Towa punya runtutan langkah spesifik dengan mekanik berbeda untuk dieksekusi.

Ada yang lebih dibuat seperti memainkan game rhythm, dan ada yang sampai membuatmu harus mengatur bentuk pedang serta memberi lapisan dengan cara melukisnya secara langsung. Mungkin sebagian orang akan berpikir kalau ini bisa merepotkan, tapi kami justru lumayan menikmati prosesnya, apalagi karena setiap langkah prosedurnya bisa memberi akumulasi peningkatan stats yang bergantung pada seberapa mulusnya kamu saat bermain.

Selebihnya kamu bisa ikut menjalani Request lewat Village School yang akan membawamu dalam ekspedisi lebih singkat, dan reward yang bisa didapat darinya lumayan penting untuk dikejar karena termasuk material yang cukup langka untuk dicari. Karena adanya sistem time leap, request pada setiap timeline otomatis akan kembali direset dengan yang baru, jadi kamu harus sebisa mungkin menyelesaikannya sebelum siap untuk lanjut ke progress besar di cerita.

Kesimpulan

Impresi kami pada akhirnya tidak banyak berubah yang bisa merujuk ke kesan positif dan negatif. Positif karena kami sudah lumayan menyukai gamenya sejak sesi preview terutama pada porsi cerita yang lebih diperdalam dibanding kebanyakan game di genrenya, negatif karena gamenya tidak memberi banyak momen “wow” selain aspek time leap yang memang harus diakui cukup keren.

Jika memandangnya sebagai game roguelite murni, Towa and the Guardians of the Sacred Tree sudah dikemas dengan struktur yang pas, apalagi dengan konsep mengendalikan dua karakter di waktu bersamaan yang memperkuat sisi replayability serta ruang untuk bereksperimen. Skema kontrol sayangnya belum terasa nyaman di PC, sehingga kami masih mewajibkan untuk bermain dengan kontroler. Faktor tingkat kesulitan yang lebih mudah juga bisa jadi pertimbangan, meski untuk yang satu ini bisa saja lebih ke arah subjektif, tapi kami sendiri memang hampir tidak pernah gugur sepanjang jalannya permainan kecuali di satu atau dua momen saat melawan boss tangguh.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.



Borderlands 4 Rilis 12 September!


Ingin mendapat update terkini dari Borderlands 4? Halaman all-in-one kami sudah merangkum berita, gameplay, ulasan, hingga perbandingan edisi penjualan yang bisa membantumu mendapat semua informasi sebelum memutuskan untuk terjun ke gamenya!



Kunjungi Halaman


Sampai jumpa di Kairos!



Hi guys, kami akhirnya sudah punya akun Twitter dan YouTube resmi! Langsung saja follow:

 

 




Jangan lupa untuk cek channel TikTok kami!

@gamerwk_id

The Review

Towa and the Guardians of the Sacred Tree

PROS

  • Porsi cerita yang sangat dalam untuk standar game Roguelite
  • Para karakter utama yang menarik, terutama sang heroine sendiri
  • Sisi art direction menawan dengan BGM nyaman
  • Sistem gameplay dua karakter yang menarik lewat Tsurugi dan Kagura
  • Aspek time leap yang keren dan mengikat pada progression

CONS

  • Tapi terlalu mudah untuk standar game roguelite
  • Alur gameplay yang butuh waktu sampai terbiasa dan tidak selalu nyaman apalagi saat berusaha menguasai Quick Draw
  • Kontrol mouse dan keyboard yang relatif buruk

Artikel ini Rangkuman Dari Berita : https://gamerwk.com/review-towa-and-the-guardians-of-the-sacred-tree-roguelite-charming-yang-bikin-serasa-main-jrpg/

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *