Wawancara dengan Director dan Produser Resident Evil Requiem - Akhirnya Bisa Bahas Soal Leon!

Dalam persiapan menyambut rilisnya Resident Evil Requiem, tim kami berkesempatan mengikuti event media khusus untuk hands-on gamenya lebih dulu sekaligus terlibat dalam wawancara. Kali ini sesi diskusinya sudah diwakili langsung oleh Koshi Nakanishi (Director) dan Masato Kumazawa (Producer) yang membedah lebih dalam bagaimana seri terbaru ini bukan sekadar sekuel, melainkan sebuah refleksi emosional bagi para veteran sekaligus pintu masuk yang ramah bagi pendatang baru.

Koshi Nakanishi dan Masato Kumazawa

Dinamika Antar Grace dan Leon 

Salah satu aspek paling mencolok dari Requiem adalah perbedaan kontras gaya bermain antara Grace dan Leon. Grace membawa pemain kembali ke akar horor murni: manajemen inventaris yang ketat, pengecekan setiap sudut ruangan, dan rasa rentan yang mencekam. Sementara itu di sisi lain, Leon menawarkan aksi yang lebih eksplosif, berat, dan cepat.

“Seperti yang Anda sebutkan, Grace dan Leon memiliki gaya bermain yang sangat berbeda. Selama tahap riset, kami melakukan banyak pencampuran, terutama menentukan bagian mana yang harus dimainkan oleh tiap karakter. Kami melakukan banyak penyesuaian serta uji coba (trial and error) untuk itu,” ungkap Nakanishi.

Meskipun pada demo awal Grace tampak lebih dominan, Nakanishi memastikan bahwa porsi keduanya terbagi rata 50-50 dalam versi final. “Karena setiap karakter memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, kami mencoba menyebarkan porsi permainan mereka untuk menonjolkan bagian masing-masing secara maksimal.”

Sudut Pandang Personal Mengenai Leak dan Ancaman AI

Dengan maraknya bocoran informasi tidak resmi mengenai Resident Evil Requiem, tim pengembang memberikan perspektif yang cukup mengejutkan. Namun perlu dicatat kalau respon ini datang dari pendangan pribadi produser atau director, karerna posisi resmi Capcom adalah bahwa kebocoran tidak ditoleransi dalam keadaan apa pun.

Secara personal, Nakanishi justru melihatnya sebagai fenomena yang tidak begitu negatif. “Saya sebenarnya tidak merasa negatif tentang kebocoran itu sendiri. Saya punya pandangan bahwa karena semua pengguna sangat berinvestasi pada game ini, hal itu menunjukkan seberapa dalam seri Resident Evil dicintai,” ujarnya.

Namun, Masato Kumazawa memberikan peringatan mengenai sisi gelap dari informasi yang tidak terverifikasi, terutama dengan kemajuan teknologi AI yang mampu menciptakan informasi palsu yang sangat meyakinkan. “Saya merasa sedikit khawatir tentang bagaimana orang akan memandang informasi di masa depan. Saya berharap pengguna akan memercayai sumber resmi ketika waktunya tepat.”

Nakanishi bahkan menambahkan sebuah gurauan yang reflektif, “Bahkan lewat wawancara online, kami sendiri tidak tahu apakah kami sedang berbicara dengan AI atau tidak.”

Merealisasikan Pengalaman Addictive Fear

Nakanishi menjelaskan bahwa tema utama Requiem adalah Addictive Fear (ketakutan yang mencandu). Konsep ini diimplementasikan secara berbeda pada kedua protagonis namun tetap dalam satu payung tema yang sama.

“Untuk Grace, dia memiliki ketakutan horor dalam cara yang lebih sunyi dan halus dengan semua bayangan yang mengintai di kegelapan. Untuk Leon, ini lebih ke arah aksi yang mendebarkan, berdampak, dan ketegangan berkecepatan tinggi dalam cara yang membuat ketagihan,” jelas Nakanishi. “Keduanya adalah horor, tetapi Anda sebenarnya akan semakin kecanduan padanya. Kedua karakter tersebut memiliki tema ini untuk diri mereka sendiri.”

Kembalinya Leon S. Kennedy

Leon kini bukan lagi agen muda yang energetik seperti di masa lalu. Dalam Requiem, Leon digambarkan sebagai seorang pria berusia 49 tahun yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya melawan bio-terorisme.

“Dia telah bertemu banyak orang, dan beberapa dari mereka tidak mampu dia selamatkan. Meskipun potret karakternya terlihat keren secara visual dengan rasa humor yang khas, sebenarnya dia memikul beban yang sangat berat,” ungkap Nakanishi. Tim pengembang sangat berhati-hati dalam menggambarkan perjalanan emosional Leon saat ia harus kembali ke tempat semuanya bermula.

“Meskipun potret karakternya terlihat keren secara visual dengan rasa humor yang khas, sebenarnya dia memikul beban yang sangat berat yang sudah bersamanya sejak lama. Dia benar-benar muak dengan semua ini. Dia akan datang ke Raccoon City untuk menghadapi awal dari ceritanya sendiri. Itu adalah salah satu hal sangat penting yang kami perjuangkan selama pengembangan.”

Pemilihan Leon pun bukan tanpa alasan. Nakanishi menjelaskan bahwa tim ingin mengambil langkah mundur untuk menelusuri kembali akar horor klasik seperti Resident Evil 2 dan 3. Karena Leon dan Raccoon City adalah konsep yang tak terpisahkan, tim bahkan tidak mempertimbangkan karakter lama lainnya untuk peran utama ini.

Tingkatan gore yang sangat ekstrem dalam Requiem ternyata memiliki fungsi naratif untuk menggambarkan kondisi mental Leon tersebut. “Ekspresi grotesk dalam game ini adalah faktor besar untuk bagian Leon, dan itu adalah cara untuk mengekspresikan perjuangan internalnya. Itu cara untuk menunjukkan betapa dia sangat kelelahan setelah bertahun-tahun berjuang… dia benar-benar muak.”

Zombie yang “Manusiawi” dan Mekanisme Strategi Unik

Inspirasi musuh dalam Requiem tidak lagi mengambil referensi film luar seperti Evil Dead, melainkan kembali ke akar internal Capcom. Zombie dalam seri ini dirancang untuk memiliki perilaku yang sisa-sisa kemanusiaannya masih terlihat, namun hal itu justru menambah level ketidakterdugaan.

“Kami menambahkan level ketidakterdugaan dengan zombie yang berbeda, seperti zombie yang sebelumnya sedang memasak dan memegang pisau, atau zombie yang sedang membersihkan pusat klinik. Pemain tidak bisa hanya buta menerjang zombie dan melewati mereka,” kata Nakanishi.

Menariknya, mekanisme permainan memungkinkan adanya sinergi unik antara kedua karakter. Jika Grace membiarkan musuh tetap utuh, mereka bisa bermutasi dan menjadi ancaman bagi Leon nantinya. “Anda bisa meninggalkan semua musuh di bagian Grace, membiarkan mereka bermutasi, lalu membiarkan Leon yang membereskannya. Ini bisa menjadi salah satu strategi tentang bagaimana mendekati game ini.”

Pesan untuk Pemain Baru dan Veteran

Menanggapi rumor yang beredar, Kumazawa menegaskan dengan jelas: “Baru-baru ini ada banyak rumor bahwa game ini adalah game open world. Saya harap Anda mengerti bahwa game ini bukan open world.” Game ini tetap setia pada desain ruang tertutup yang mencekam.

Bagi pemain baru, Nakanishi menjamin bahwa Requiem adalah titik masuk yang sempurna meskipun memiliki angka “9”. Melalui karakter Grace, pemain baru dapat belajar tentang tragedi Raccoon City dari nol, sama seperti karakter tersebut. “Bagi para veteran, kita akan kembali ke Raccoon City. Meskipun Leon karakter yang kuat, dia akan ditempatkan di titik yang sangat sulit, pada garis yang sangat tipis dari apa yang bisa dia tangani.”

Dengan kembalinya fitur klasik seperti Ink Ribbon pada kesulitan tertinggi, sistem kustomisasi senjata ala Resident Evil 4 untuk Leon, dan tingkat kekerasan (gore) yang disebut sebagai yang paling ekstrem dalam sejarah seri ini, Resident Evil Requiem siap mendefinisikan ulang standar survival horror.

Tidak sabar menanti gamenya? Resident Evil Requiem akan rilis pada 27 Februari 2026 untuk PlayStation 5, Xbox Series, dan PC. Kamu bisa pantau segala perkembangan terupdate mengenai gamenya lewat website resmi mereka DI SINI.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.

Hi guys, kami akhirnya sudah punya akun X dan YouTube resmi! Langsung saja follow:

 

 




Jangan lupa untuk cek channel TikTok kami!

@gamerwk_id

Artikel ini Rangkuman Dari Berita : https://gamerwk.com/wawancara-dengan-director-dan-produser-resident-evil-requiem-akhirnya-bisa-bahas-soal-leon/

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *