Pada ajang Tokyo Game Show 2025, kami berkesempatan langsung mencoba Monster Hunter Outlanders. Booth-nya jadi salah satu yang paling ramai, dipenuhi pengunjung yang penasaran apakah seri ini bisa menghadirkan sensasi berburu khas Monster Hunter tapi di mobile. Rasanya seru bisa merasakan sendiri demo resminya, bukan sekadar menonton trailer di panggung.
Walau waktu mainnya tidak lama, hands-on ini cukup bikin kebayang arah gamenya. Aesoland terasa hidup, sistem kelas Adventurer kasih variasi baru, dan kehadiran Buddy tambahan bikin perburuan makin rame. Outlanders berhasil kasih kombinasi antara vibe klasik Monster Hunter dengan sentuhan fresh yang pas buat platform mobile. Mari simak artikelnya!
Dunia Baru dan Cerita yang Mengikat

Setting cerita masih mengambil pola khas Monster Hunter, tapi dengan twist yang lumayan segar. Pemain berperan sebagai Adventurer, sekelompok penjelajah dari berbagai budaya yang terdampar di Aesoland setelah kapal udara mereka dihantam badai. Dari sinilah misteri Radiantite mulai jadi pusat perhatian.
Mineral ini tidak hanya sekadar elemen latar, tapi benar-benar memengaruhi bentuk dunia, budaya penduduk, bahkan sifat monster yang berkeliaran. Radiantite bisa membuat makhluk jadi lebih buas, atau bahkan mengubah medan pertempuran secara drastis.
Dalam versi demo, area yang dibuka adalah Grand Archipelago, sebuah zona penuh jamur raksasa dan rumput laut bercahaya. Warna-warna cerah dan detail ekosistemnya bikin suasana terasa hidup. Menariknya, eksplorasi tidak hanya jalan lurus dari titik A ke titik B, tapi ada opsi membangun fasilitas dan memperbaiki menara pengawas untuk membuka peta. Bahkan sekadar berkeliling sudah terasa rewarding karena dunia ini benar-benar ingin mengajak kita menjelajah.
Mode Solo dan Multiplayer

Outlanders menawarkan dua cara utama bermain. Mode single player memungkinkan pemain menikmati cerita sambil menjelajah dengan bebas, baik sendirian maupun ditemani hingga tiga NPC Adventurers. Dalam demo, saya otomatis ditemani satu NPC yang ternyata benar-benar membantu di pertempuran, bukan hanya tempelan tanpa guna. Mereka bisa menyerang, mengalihkan perhatian monster, bahkan memberikan dukungan saat diperlukan.
Di sisi lain, mode multiplayer juga langsung ditunjukkan di booth. Pertempuran empat pemain terasa ramai, dengan komunikasi yang bisa dilakukan lewat quick chat atau voice chat. Nuansa kebersamaan dan strategi masih terasa, mirip dengan hunt klasik, tapi disesuaikan agar tetap nyaman di perangkat mobile.
Sensasi Berburu di HP

Pertanyaan paling besar tentu soal kontrol. Bagaimana sensasi berburu di layar kecil bisa menandingi konsol? Untungnya, sistem kontrol terasa cukup matang. Saat mencoba Great Sword, animasi serangan, timing charge, hingga beratnya tebasan benar-benar mengingatkan pada versi konsol. Mereka menambahkan sistem combo berbasis tap sederhana agar lebih ramah, tapi tidak sampai mengorbankan identitas senjata.
Kamera otomatis menempel pada monster sehingga saya tidak perlu repot mengatur sudut pandang. Fitur lock-on wheel juga memungkinkan target bagian tubuh tertentu, menambah kedalaman strategi. Selain itu, ada prompt visual yang lebih jelas untuk memperingatkan serangan monster, membantu mengatasi keterbatasan layar kecil. Kesannya, semua sudah di-streamline, tapi tetap mempertahankan rasa khas Monster Hunter.
Adventurers dan Peran dalam Pertarungan

Karakter yang dimainkan disebut Adventurers, dan mereka terbagi ke tiga kelas: Assault untuk damage, Disruptor untuk kontrol dan debuff, serta Support untuk healing dan rescue. Default karakter, Fated Adventurer, bisa dikustomisasi penuh dan menggunakan semua jenis senjata. Di demo, tersedia lima senjata utama: Great Sword, Long Sword, Dual Blades, Bow, dan Heavy Bowgun. Menariknya, Fated Adventurer bisa berganti kelas sesuai kebutuhan, meski di demo saya hanya bisa mencoba peran Assault.
Selain itu, ada Adventurers lain dengan spesialisasi berbeda seperti Midori (Long Sword, Assault), Pepe (Heavy Bowgun, Disruptor), Raya (Dual Blades, Disruptor), dan Madelyn (Bow, Support). Walau belum sempat mencoba mereka, tim pengembang menekankan bahwa komposisi tim akan sangat memengaruhi tingkat kesulitan berburu. Jadi pilihan karakter bukan sekadar kosmetik, tapi juga strategi.
Buddies Baru untuk Menemani

Monster Hunter tanpa companion rasanya hampa. Outlanders tetap menghadirkan Palico, tapi juga menambah dua spesies baru: Rutaco dan Trillan. Palico fokus mendukung Assault dengan damage tambahan, Rutaco cocok buat Disruptor dengan gadget unik, sementara Trillan lebih condong ke Support dengan kemampuan healing dan buff.
Setiap Buddy bisa punya variasi tampilan dan skill berbeda, sehingga kombinasi Adventurer dan Buddy akan sangat berpengaruh. Ini memberi lapisan strategi tambahan, terutama saat harus menyesuaikan dengan gaya main tim.
Mekanik Berburu dan Monster Radiant

Demo juga menampilkan sistem Co-Op Skill, di mana seluruh tim bisa menyinkronkan serangan untuk menghajar satu bagian monster dengan damage masif. Walau saya belum sempat mengaktifkannya langsung, pertunjukan di panggung memperlihatkan animasi yang keren dan efek serangan yang mengguncang.
Musuh juga tidak kalah menarik. Ada Radiant Species, yaitu monster yang terdistorsi Radiantite. Mereka bukan sekadar varian warna, tapi punya pola serangan lebih agresif, kekuatan lebih tinggi, bahkan bisa masuk mode frenzy di tengah pertempuran. Beberapa monster klasik seri ini juga sudah dikonfirmasi bakal kembali, jadi ada perpaduan familiar sekaligus segar.
Eksplorasi dan Event Sampingan

Selain perburuan, ada banyak aktivitas sampingan yang bikin eksplorasi lebih bervariasi. Pemain bisa membangun fasilitas di lapangan untuk mempermudah perjalanan, atau memperbaiki menara pengawas agar peta terbuka lebih luas. Hal ini bikin dunia terasa lebih interaktif dan tidak monoton.
Saya sempat mencoba event Egg Heist Challenge, misi klasik membawa telur sambil dikejar monster. Seru dan menegangkan, apalagi di layar sentuh. Ada juga event lain seperti Zen Stone Balance dan Winged Treasure Hunt, meski saya tidak sempat mencobanya sendiri. Intinya, ada cukup banyak aktivitas di luar berburu monster besar.
Fitur Sosial dan Guild

Satu hal yang menonjol adalah adanya Adventurers’ Guild, sistem tim permanen yang memungkinkan pemain bergabung untuk membuka fitur sosial lebih banyak. Dikombinasikan dengan Gathering Hub yang sudah jadi tradisi Monster Hunter, Outlanders berusaha menciptakan komunitas yang aktif meski berbasis mobile. Jika sistem ini berjalan baik, game bisa punya daya tarik jangka panjang, bukan sekadar grind tanpa arah.
Kesimpulan
Selama sekitar 15 menit mencoba demo, kesan saya cukup positif. Monster Hunter Outlanders terasa seperti eksperimen berani yang mencoba menyeimbangkan kebutuhan mobile dengan jiwa seri aslinya. Sistem kontrol sudah disesuaikan dengan baik, peran Adventurer dan Buddy memberi kedalaman baru, Radiant Species menambah tantangan, sementara fitur eksplorasi dan event sampingan membuat game tidak hanya soal perburuan.
Tentu saja, masih ada tanda tanya besar soal progresi jangka panjang dan model monetisasi free-to-play. Namun sebagai demo di TGS 2025, Outlanders sukses membuat saya lebih optimis dibanding skeptis. Semoga produk akhirnya nanti akan jauh lebih baik lagi dengan berbagai polesan.

Monster Hunter Outlanders belum memiliki jadwal rilis. Kamu bisa kunjungi situs resminya DI SINI untuk berbagai informasi lebih lanjut.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id
Artikel ini Rangkuman Dari Berita : https://gamerwk.com/tgs-2025-nyobain-monster-hunter-outlanders-sensasi-berburu-monster-di-mobile/