Review DRAGON QUEST I & II HD-2D Remake – Fans Lama Pasti Terharu Dengan Remake Ini!

Dragon Quest I & II HD-2D Remake menghadirkan dua petualangan klasik yang legendaris dalam bungkusan visual modern. Mengusung gaya HD-2D seperti Dragon Quest III Remake, game ini membawa kembali pesona era pixel art yang berkualitas dengan 3D grafis yang menawan, efek cahaya yang rapih, dan animasi karakter yang penuh detail.

Dragon Quest I & II HD-2D Remake tidak hanya mempercantik tampilan, tetapi juga memperkaya pengalaman bermain dengan tambahan cerita, side mission, dan fitur modern yang membuat keseruan dan petualangan jadi terasa segar. Mulai dari perjalanan seorang pahlawan tunggal hingga petualangan yang diramaikan oleh para karakter lainnya, game ini sukses menggabungkan nuansa retro dengan sentuhan modern, menghadirkan kembali pesona khas Dragon Quest.

Cerita Klasik di Zaman Modern

Dragon Quest I
Kisah Dragon Quest I masih tetap sama dengan versi originalnya. Pemain akan berperan sebagai seorang pahlawan tunggal yang harus membuktikan diri terlebih dahulu sebelum berangkat menyelamatkan sang putri dari Dragonlord. Untuk mencapai kastilnya, kamu harus mengumpulkan tiga kunci. Berbeda dengan versi aslinya, beberapa kuncinya sekarang bisa dibeli di toko, dan perubahan ini terasa alami dalam alur cerita remakenya.

Sepanjang perjalanan, pemain akan menyelesaikan berbagai misi dengan cara mengalahkan bos atau menolong warga desa. Dalam remake ini, ada beberapa tempat yang didesain ulang dan berbeda dari Dragon Quest I yang lama dan bahkan ada event serta misi baru yang tidak ada sebelumnya. Hal seperti ini tentu menjadi kejutan yang menyenangkan bagi para fans lama.

Beberapa lokasi ikonik juga tetap bisa ditemukan di sini, seperti Village of Kol, tempat untuk mendapatkan Faerie Flute, item penting yang sangat berguna di awal game. Dari keseluruhannya, cerita DQ I memang sederhana dan tak terlalu dalam, tapi tetap menjadi pengantar yang kuat untuk seri ini. Game ini bebas mau dimainkan setelah atau sebelum DQ II, karena tidak begitu terkait. Meskipun begitu, memainkan DQ I lebih dahulu akan membuatmu lebih menghargai detail dan referensi yang muncul di sekuelnya nanti.

Dragon Quest II
Kisah Dragon Quest II berlangsung setelah cerita di DQ I di dunia yang sudah diselamatkan sang pahlawan dari Dragonlord dan kembali damai. Namun kedamaian itu tidak berlangsung lama. Monster tiba-tiba menyerang kerajaan Moonbrooke dan menghancurkannya. Dibanding DQ I, pembuka DQ II terasa jauh lebih kuat. Menampilkan invasi monster secara visual dan tetes terakhir sang raja untuk menyelamatkan putrinya, sebagai orang yang satu-satunya selamat.

Berbeda dari DQ I yang mana mengisahkan pahlawan tunggal, kali ini pemain akan berperan sebagai pangeran dari kerajaan lain dan memulai perjalanan mencari teman untuk membantu dan menyelamatkan sang putri. Jadi pemain akan mengungkap siapa dalang di balik kehancuran itu dan menumpas kekuatan jahat yang mengancam dunia bersama dengan karakter lainnya.

Dragon Quest II kemudian menghadirkan kisah yang lebih kaya dan mendalam dibanding DQ I. Dunianya terasa lebih hidup dengan cerita tambahan, area yang lebih luas, serta dungeon yang lebih kompleks. Setiap wilayah memiliki suasana dan kisah kecilnya sendiri yang terhubung dengan cerita utama, membuat perjalanan terasa lebih organik dan imersif.

Ada juga pertemuan dan event sampingan yang kadang muncul tak terduga, seperti bertemu NPC di antah berantah, cutscene yang muncul tiba-tiba, atau menemukan area yang tersembunyi. Dalam HD-2D Remake ini, Putri Cannock ikut bergabung sebagai anggota keempat. Padahal di versi aslinya ia hanya muncul sebagai NPC. Tambahan ini membuat ceritanya lebih hidup, walau di sisi lain pacingnya terasa lambat karena adanya side mission dan event opsional yang bisa mendistrak dari cerita utamanya atau harus selalu backtracking yang repetitif.

Meski begitu, tambahan-tambahan kecil ini justru membuat dunianya terasa lebih nyata dan benar-benar hidup. Setiap menemukan suatu hal dan koneksinya entah ke cerita sekuelnya atau ke cerita utamanya membuatnya semakin penasaran untuk terus dijelajahi. Remake ini berhasil menghidupkan kembali pesona dunia klasik dengan cara yang terasa baru.

Eksplorasi Banyak Isi

Area yang lebih luas dan dungeon yang baru benar-benar menjadi elemen adventure dari DQ II jadi segar. Namun satu hal yang masih dipertahankan di game ini adalah kebebasan bereksplorasinya. Pemain bisa menjelajahi hampir seluruh area di game ini, bahkan area yang tidak ada hubungan dengan cerita utamanya.

Seringnya, pemain jadi makin penasaran untuk menjelajahi wilayah yang berlevel tinggi demi mencari item langka atau senjata yang kuat. Hal ini justru menciptakan keseimbangan menarik antara bahaya dan rewardnya, jadinya membuat tiap kali mengeksplor terasa seru.

Kadang, sehabis selesaikan misi utama pemain bisa kembali ke area yang sama dan menemukan hal-hal baru. Mulai dari event rahasia, cerita kecil yang tersembunyi, hingga detail yang sebelumnya terlewat. Berbagai tempat-tempat rahasia pun tersebar di seluruh peta DQ II yang beberapa akan memberimu material berguna atau cerita lucu.

Nah, kebebasan ini yang kadang membuat pemain keluar dari jalur utama dan mulai eksplor ke wilayah lain. Tapi, biasanya musuh di area tersebut jauh lebih kuat, jadi pemain terpaksa harus memprogres cerita utamanya. Desain seperti ini membuat ekplorasi terasa seimbang yang memberikan kebebasan tanpa mengorbankan struktur dunianya.

Spell Zoom mempunyai peran penting dalam aspek eksplorasi. Pada DQ I Remake, kamu baru bisa menggunakannya di level 13, layaknya versi lama. Tapi di DQ II Remake, spell ini bisa didapatkan lebih cepat, tepat setelah bertambahnya jumlah party tertentu, jadi bisa fast travel ke kota-kota yang sudah dikunjungi. Mapnya DQ II juga jauh lebih besar daripada prekuelnya yang cuman ada sebagian kecil dari dunianya yang luas. Eksplorasi jadi bertambah seru ketika kapal di Rippleport sudah bisa dibuka dan menjadikan mengelilingi dunianya jadi lebih jauh.

Sistem Gelut Lama yang Tak Terasa Butut

Sistem pertarungannya masih tetap menggunakan sistem turn-based klasik JRPG. Hal ini justru menambah nuansa retronya yang khas, meski mungkin terasa canggung buat pemain baru. Untungnya, tambahan fitur modern seperti auto-battle dan kecepatan combatnya membuat pengalaman bermain jauh lebih nyaman.

Meski begitu, Dragon Quest I terasa lebih menantang dibanding Dragon Quest II, terutama di awal permainan. Alasannya sederhana, karena di DQ I kamu bertarung sendirian tanpa adanya teman, jadi setiap pertempuran terasa berat. Sedangkan di DQ II, kamu memiliki party yang lengkap yang membuat pertarungan lebih seimbang dan strategis.

Secara visual, pertarungannya terlihat segar berkat gaya HD-2D. Efek dan tampilan menunya menawan, meski sedikit mirip dengan Dragon Quest III HD-2D Remake dan ini tidak jadi masalah karena ketiganya dibuat dengan kerangka yang sama.

Perbedaan besar terletak pada sistem party. Berbeda dari DQ III yang pemain dapat membuat karakter dan memilih profesinya sendiri, DQ I hanya memiliki satu karakter utama, dan DQ II menggunakan karakter tetap yang terikat cerita. Jadi, tidak ada sistem job atau kustomisasi yang mendalam, tapi ini justru bagus untuk menjaga fokus pada cerita naratifnya. Pemain benar-benar merasa sedang mengikuti kisah para pahlawan di DQ I dan II, bukan hanya mengatur tim buatan sendiri.

Sistem pertarungannya di sini tidak mencoba untuk mengubah formula yang sudah ada, tapi malah berhasil menyeimbangkan gaya klasiknya dengan fitur modern. Kombinasi antara sistem turn-based tradisional dan fitur quality-of-life membuat setiap pertempuran terasa nyaman, ringan, dan tetap seru persis seperti yang seharusnya ada dalam Dragon Quest.

Visual yang Sedap Dipandang dan Musik yang Mewah Didengar

Kalau berbicara soal tampilannya, teknologi HD-2D benar-benar membawa Dragon Quest I & II hidup kembali. Melihat game klasik yang hampir berusia 40 tahun ini tampil dengan visual modern menjadi kesenangan tersendiri bagi fans lama. Bagi pemain yang belum sempat mencoba versi aslinya, remake ini terasa seperti jembatan sempurna antara masa lalu dan masa kini. Dengan ceritanya yang masih sama, nuansa nostalgianya yang terjaga, tapi kini dikemas dengan visual yang memukau.

Sama seperti Dragon Quest III Remake, beberapa cutscene kini dilengkapi voice over yang membantu membangun momen emosional dan membuat kisahnya terasa lebih hidup. Walau karakter utamanya tetap diam, para karakter pendukung mampu menunjukkan ekspresi dan kepribadiannya lewat akting suara yang hebat.

Namun, satu kekurangan yang masih sama dengan DQ III HD-2D ada terletak pada animasi pertarungannya yang masih statis. Setelah menyerang atau mengeluarkan sihir, kamera hanya berpindah fokus ke musuh tanpa adanya gerakan dinamis. Gaya ini memang mempunyai nuansa klasik, tapi akan lebih menarik jika pemain diberi opsi untuk memilih animasi modern yang lebih hidup.

Untuk musiknya, sudah tidak lagi perlu diragukan. Musiknya sangat luar biasa. Dragon Quest selalu dikenal dengan soundtrack orkestra yang megah, dan remake ini membuktikan bahwa musik tetap menjadi jiwa dari seri ini. Baik saat bertarung, menjelajah, atau menyaksikan adegan emosional, musiknya selalu mampu memperkuat suasana dan membawa pemain larut dalam petualangan.

Remake HD-2D ini bukan hanya tentang memperbarui grafis, tapi juga membangkitkan kembali semangat klasik yang membuat seri ini begitu dicintai selama hampir empat dekade.

Kesimpulan

Dragon Quest I & II HD-2D Remake bukan sekadar peningkatan visual, tapi juga bentuk penghormatan terhadap seri legendaris ini. Kedua game tetap mempertahankan sistem turn-based klasik sambil menambahkan fitur modern yang membuatnya nyaman dimainkan oleh pemain baru. Gaya seni HD-2D berhasil memadukan nuansa nostalgia dengan tampilan modern yang menawan, sementara tambahan voice over memberikan kehidupan baru pada momen ikonik lama.

Dragon Quest I menawarkan petualangan sederhana dan nostalgik tentang seorang pahlawan yang berjuan sendiri, sedangkan Dragon Quest II memperluas pengalaman itu di dunia yang lebih besar, karakter yang lebih banyak, dan cerita yang lebih emosional. Kebebasan eksplorasi serta keseimbangan antara risiko dan rewardnya membuat perjalanan terasa menegangkan dan seru hingga akhir.

Walau animasi pertarungannya masih statis dan beberapa elemen terasa lebih tradisional dibanding DQ III, remake ini tetap berhasil menghadirkan pesona klasik yang membuat seri ini begitu legendaris. Alih-alih mencoba mengubah masa lalu, game ini justru berhasil memberinya penghormatan penuh.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.

Artikel ini Rangkuman Dari Berita : https://gamerwk.com/review-dragon-quest-i-ii-hd-2d-remake-fans-lama-pasti-terharu-dengan-remake-ini/

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *