Review Digimon Story Time Stranger - Satu Langkah Besar Menuju Game Digimon Impian!

Tidak terasa kita sudah mendekati delapan tahun sejak rilisnya seri Digimon Story terakhir yang pada waktu itu bahkan masih kebagian untuk PlayStation Vita. Meski para fans sempat dimanjakan dengan rilis beberapa game lain di franchisenya termasuk Digimon Survive, tapi apa yang ditawarkan subseries Digimon Story memang sangat spesial karena formatnya sebagai JRPG paling ideal. Penantian tersebut akhirnya berakhir di minggu ini, karena akhirnya kita kedatangan seri terbaru Digimon Story Time Stranger yang membawa beberapa dobrakan besar, terutama dari sisi skala konten hingga aksesibilitas.

Tim kami kebetulan sudah berkesempatan memainkan gamenya selama satu minggu terakhir dan meski belum mendapat waktu yang cukup untuk menyelesaikan semua kontennya, tapi kami lumayan mendapat gambaran jelas dari premisnya terutama bagaimana game ini mungkin layak untuk menempati posisi seri terbaik di franchisenya. Jika penasaran dengan kualitas yang ditawarkan, langsung saja simak review lengkapnya di bawah ini!

Jalan Cerita

Mengikuti judul subseriesnya, Digimon Story Time Stranger tentu masih menaruh fokus besar pada jalan cerita. Kali ini ada penakan kuat pada hubungan manusia dan Digimon, aspek time travel, hingga keterlibatan prominen Olympos XII sebagai karakter pendukung. Ceritanya bermula saat sang protagonis yang merupakan anggota organisasi rahasia ADAMAS melakukan investigasi sebuah anomali di Shinjuku, yang kemudian memicu terjadinya bencana besar hingga melempar mereka melintasi waktu hingga tepatnya 8 tahun lalu.

Pada saat dunia sedang berjuang menghadapi malapetaka yang menyebar karena tragedi “Shinjuku Inferno”, karaktermu jadi satu-satunya harapan untuk membalikkan keadaan. Ini apalagi didukung keterikatan kuat antara bencana tersebut dengan beberapa karakter kunci termasuk rahasia dari Digimon serta Digital World secara luas yang hanya bisa diselidiki lebih dalam di masa lalu.

Ada lumayan banyak kepingan cerita yang dibawa, dan gamenya sendiri tidak begitu merangkumnya dalam format yang nyaman untuk dicerna sampai setidaknya kamu berhasil mencapai progress lebih jauh. Ini bukan berarti gamenya punya cerita yang rumit, tapi runtutan event yang ada terasa kurang begitu menarik, tidak memberi konteks jelas, dan terlalu mudah diprediksi dengan adanya plot twist besar yang menurut kami kurang cocok untuk diungkap terlalu awal. Meski begitu, kami sangat mengapresiasi bagaimana pihak developer mengurangi porsi dialog yang terlalu bertele-tele, sesuatu yang memang jadi komplain cukup besar dari seri Digimon Story terdahulu karena terkadang bisa terasa seperti Visual Novel.

Gamenya kembali membawa opsi dua protagonis pria dan wanita seperti seri original Cyber Sleuth, yang mana kali ini keduanya sama-sama memiliki peran relevan dalam ceritanya terlepas dari mana yang kamu pilih. Hanya saja kedua karakter ini memiliki identitas yang ternyata sama persis, dan satu-satunya perbedaan hanya ada pada gendernya saja. Jadi semisal kamu memilih si protagonis pria, sang protagonis wanita akan berperan sebagai operator utama dari ADAMAS yang memandumu di sebagian besar porsi gamenya, begitu pula sebaliknya.

Selebihnya tidak ada banyak perbedaan lain, kami sudah cek untuk dialog hingga porsi percakapan mereka baik saat berperan sebagai protagonis dan operator pun dibuat sama persis. Berhubung masing-masing dari mereka sudah mendapat voice act penuh saat berperan sebagai operator, cukup kecewa rasanya saat mendapati kalau mereka dibuat bisu saat kamu pilih sebagai protagonis. Lalu bagaimana dengan karakter pendukung? Untuk kubu manusia kami rasa sebagian besar terasa hambar kecuali untuk Hiroko dan Dr. Simmons, tapi sebaliknya untuk kubu Digimon seri barunya ini benar-benar menghidupkan mereka ke level interaksi yang terasa jauh lebih hidup.

Antara Dunia Nyata dan Digital World

Sesi petualangan kembali membawamu dalam eksplorasi di dunia nyata dan Digital World yang sama-sama memiliki porsi besar di sepanjang progress gamenya. Dimulai di dunia nyata, keberadaan Digimon jelas adalah sebuah anomali yang hanya diketahui sebagian orang saja, jadinya kamu tidak akan terlibat dalam banyak pertempuran kecuali di beberapa area yang menjadi sarang mereka atau perkembangan cerita. Mapnya terbagi dalam beberapa wilayah ikonik di Tokyo seperti Shinjuku hingga Akihabara yang lumayan luas, tapi tidak ada banyak distraksi menarik kecuali jika kamu ingin mengakses merchant atau menjalani misi sampingan yang juga melibatkan NPC penting.

Meski dibuat lebih luas dan ramai, dunianya tidak terasa begitu hidup sehingga kami berujung tidak menghabiskan banyak waktu untuk mengeksplornya kecuali jika perlu. Lain halnya dengan Digital World karena berbeda dari seri Digimon Story lama, kali ini Time Stranger benar-benar merealisasikan sebuah dunia yang cocok sebagai tempat tinggal para Digimon. Momen di mana kamu pertama kali sampai ke Digital World terasa cukup memorable, apalagi dengan sekian banyak Digimon yang mendiami setiap sudut jalanan di mana mereka terlihat punya interaksi uniknya sendiri daripada hanya berlagak layaknya robot.

Berbeda dari porsi dunia nyata, kami sampai menyempatkan diri untuk melihat setiap Digimon yang ada di jalanan dan mencoba mengingat kembali siapa mereka yang ikut memberi kesan nostalgia kuat. Selain dari penggambaran dunia yang sangat hidup, dari sisi desain Digital World di Time Stranger juga terlihat sangat menarik karena kamu berada di sebuah dunia fantasi bernama Iliad, dan ini jelas berbeda dari seri terdahulu di mana latar serupa hanya didominasi dengan Cyber Space yang jauh lebih membosankan dari sisi desain. Selama berada di Digital World, kamu lebih bebas untuk mengekspresikan ikatan karakter dengan Digimon, seperti bagaimana mereka akan selalu mengikutimu yang tentu memudahkan komunikasi untuk mengganti “Personality” jika perlu serta akses ke mode DigiRide untuk menunggangi Digimon sebagai opsi transportasi.

Dan tentu saja seperti di dunia nyata, ada akses ke berbagai macam merchant untuk membeli dan menjual item. Dengan adanya dua perbedaan yang cukup drastis tersebut, harus kami akui kalau keseruan gamenya seolah berlopat ganda setelah kamu mendapat akses ke Digital World. Tentu saja porsi dunia nyata tetap penting, tapi di sisi lain relevansinya lebih terbatas untuk menggerakan progress cerita saja atau berinteraksi dengan karakter NPC manusia penting.

Combat Klasik yang Lebih Seru

Masuk ke sistem combat, secara kasar apa yang ditawarkan masih relatif sama, tapi kamu akan langsung mendapati beberapa perbedaan besar juga termasuk di sisi Quality of Life yang lebih disempurnakan. Combat kembali dikemas dalam style turn-based klasik di mana kamu harus bertarung melawan Digimon dan mencari kelemahan mereka menyesuaikan Attribute Vaccine > Virus > Data. Ini tidak hanya terbatas pada Attribute saja, tapi juga Elemental Resistance dan Trait yang bisa memberi akumulasi damage maksimal hingga beberapa ratus persen, dan juga sebaliknya di mana seranganmu berujung sangat lemah hingga hampir tidak memberi damage yang cukup untuk sesi pertarungan berdurasi panjang.

Jadi daripada sekedar menyesuaikan kelemahan elemen, kamu bisa memaksimalkan akumulasi damage berdasarkan tiga indikator utama tadi yang sudah ditandai dengan ikon jelas setiap kali menargetkan musuh spesifik. Party terbagi antara tiga karakter utama di lini depan, tiga member cadangan, dan tiga slot khusus untuk karakter Guest. Selebihnya kamu bisa menyimpan sampai 999 Digimon di dalam inventory termasuk dari copy yang sama sampai berkali-kali sekali pun. Lalu bagaimana dengan sang protagonis alias Tamer? Jika di seri terdahulu peran mereka dibuat lebih terbatas, kali ini gamenya menambah skill khusus bernama Cross Arts di mana kamu bisa menggabungkan kekuatan dari beberapa Digimon untuk kemudian dilesatkan sebagai skill ofensif atau support. Cross Arts memakan bar CP yang hanya bisa diisi seiring jalannya pertempuran, jadinya kamu bisa menganggapnya sebagai semacam skill Ultimate.

Cross Arts berujung sangat berguna, di mana kami sudah berkali-kali diselematkan berkat kehadiran skill ini, apalagi saat kamu butuh serangan dengan ekstra damage tinggi yang menghiraukan Elemental Resistance. Hanya saja karena kamu hanya bisa mengatur satu skill untuk dipakai setiap saat, sistem ini jadi punya keterbatasan yang menurut kami seharusnya tidak perlu dan memberimu akses untuk memilih skill Cross Arts paling cocok dengan situasi yang ada di tengah pertempuran. Sementara khusus untuk Digimon, mereka tentunya memegang peran utama sebagai karakter yang terlibat penuh dalam setiap pertempuran. Selain dibekali serangan standar mengikuti Attribute utama, mereka juga bisa mempelajari beragam Special Skills sesuai progress levelnya, atau dengan menambah skill custom lewat Attachment Skills yang lebih fleksibel.

Tidak memakan waktu lama sampai kami menyadari kalau game ini memberi kelonggaran lebih pada sistem gilirannya, karena sekarang Tamer otomatis selalu mendapat jatah giliran untuk setiap Digimon yang bisa dikontrol. Karenanya sekarang kamu tidak akan kehilangan giliran saat menggunakan item atau swap Digimon, yang mana ini benar-benar memberi keuntungan drastis sekaligus membuat gamenya lebih mudah. Meski kami bilang “lebih mudah”, tingkat kesulitan Balanced sudah terasa cukup menantang jika kamu kurang persiapan. Selain itu combatnya ikut memberi opsi Speed hingga x5 yang kami rasa memang perlu berhubung kamu tidak bisa melakukan skip animasi serangan.

Sebagai tambahan, kami terutama juga sangat mengapresiasi dihilangkannya random encounter, dan bagaimana sekarang kamu bisa memasuki combat secara lebih bebas dengan menyerang Digimon yang berkeliaran sembari mengamankan advantage. Selama kamu punya Digimon yang lumayan kuat dalam party meski dengan level relatif rendah, gamenya tetap memungkinkanmu untuk menghabisi Digimon liar lebih lemah dalam sekejap yang membuat jalannya proses grinding jadi lebih efisien.

Semua Tentang Merawat Digimon

Tentu saja jika ada aspek paling seru dari game Digimon, maka itu ada di aktivitas mengoleksi dan memperkuat mereka, yang mana dalam game ini mereka telah mendorong rosternya secara drastis hingga 450 Digimon. Ini tidak selalu konsisten mirip di semua subseries franchisenya, tapi khusus untuk Digimon Story mereka sudah mendesainnya dengan pendekatan paling pas dan cocok dinikmati gamer mainstream. Ini termasuk bagian yang ikut mendapat perombakan khusus di sisi QoL, di mana kamu tidak lagi dibatasi pada syarat level untuk melakukan Digivolution, dan bagaimana fiturnya bisa kamu akses kapan saja selama berada di luar combat.

Dihilangkannya syarat level termasuk penyesuaian baru karena adanya Agent Skills, yang juga berhubungan dengan sistem Personality dan Cross Arts. Sekarang kamu akan dibatasi dengan Agent Rank yang hanya bisa ditingkatkan setelah membuka lebih banyak skill baru dengan mengonsumsi Anomaly Points, dan untuk mendapat AP kamu harus rajin melanjutkan cerita utama atau misi sampingan.

Penyesuaian baru ini seolah didesain dengan basis tema hubungan antara Tamer dan Digimon, karena di seri terdahulu semuanya memang lebih menitikberatkan pada seberapa rajinnya kamu dalam memperkuat Digimon saja. Kali ini perlu ada perhatian khusus juga pada si Tamer yang memiliki peran lebih prominen dalam combat serta kapabilitasnya dalam membuka potensi baru untuk rute Digivolution lebih tinggi. Dan tentu saja De-Digivolution adalah opsi yang tersedia, dan ini akan benar-benar jauh lebih berguna dari yang kamu bayangkan setelah memainkan gamenya lebih jauh atau ingin meracik Digimon dengan potensi berkali-kali lipat.

Sama seperti Digivolve / De-Digivolve, bagian lain yang ikut mendapat QoL serupa di mana kamu bisa mengaksesnya kapan saja adalah Conversion. Cara kerja sistemnya masih sama, yaitu kamu bisa melahirkan Digimon Lv. 1 baru dari yang sempat dilawan berdasarkan Scan Rate minimal di 100% atau 200% jika ingin mengejar stats terbaik. Sejauh ini jadinya sudah jelas kalau gamenya tidak lagi membuatmu harus terus singgah ke DigiLab untuk mengakses beragam fitur esensial, karena semuanya kini sudah disematkan ke dalam Digivice karaktermu. Kami jujur sangat suka dengan semua perubahan ini yang justru semakin menambah keseruan bermain, di mana kamu akan sering mendapat notifikasi kalau ada Digimon yang siap untuk dikonversi atau dievolusikan, dan bagaimana kamu bisa melakukannya langsung saat itu juga.

Selain itu ada sistem Personality yang mungkin termasuk bagian paling kompleks untuk diselami, apalagi karena gamenya tidak memberi penjelasan yang cukup. Ini adalah sistem yang harus kamu coba eksperimenkan sendiri, di mana setiap Digimon memiliki Personality yang bisa kamu ganti untuk mendapat akses ke peningkatan stats hingga skill khusus. Ini juga akan kembali merujuk pada Agent Skills, di mana masing-masing Bond memiliki Skill Tree untuk memaksimalkan potensi dari Digimon dengan Personality spesifik, jadi kamu mungkin harus memprioritaskan semuanya secara setara agar lebih aman.

Dan tidak ketinggalan gamenya masih membawa Digifarm, tapi aksesnya kali ini dibatasi lewat lokasi misterius bernama In-Between Theater yang dihuni karakter ikonik franchisenya yaitu Mirei Mikagura. Mungkin ini termasuk strategi developer untuk tidak menghilangkan peran Mirei begitu saja seperti saat di masih menjaga DigiLab, tapi di saat bersamaan tetap membawa perombakan di sisi QoL untuk sebagian fitur yang mungkin lebih praktis untuk bisa diakses kapan saja. Untuk Digifarm sendiri, ini adalah tempat di mana kamu bisa memberi Digimon semacam tempat lebih nyaman untuk berlatih, baik saat ingin meningkatkan stats atau sekedar mengganti Personality. Meski artinya kamu harus mengeluarkan Digimon dari box inventory, mereka tetap akan mendapat EXP yang setara.

Konten Sampingan

Selain dari porsi cerita dan combat, gamenya tidak memiliki terlalu banyak distraksi, tapi ada sebagian yang lumayan bisa membuatmu sibuk. Pertama sekaligus yang lumayan kami favoritkan adalah tambahan mini-game Jogmon Ultimate Card Game (JUCG). Selama sesi eksplorasi baik di dunia nyata atau Digital World, kamu bisa menantang banyak NPC untuk berduel yang tentu akan semakin menantang seiring jalannya progress, sembari di saat bersamaan ikut mendapat koleksi kartu yang lebih bervariasi. Secara total koleksinya ternyata lumayan banyak di mana kamu bisa mendapat sampai lebih dari 450 kartu, jadi ini termasuk konten yang bisa memakan waktu panjang untuk benar-benar diselesaikan tipe pemain completionist.

Selebihnya ada juga Outer Dungeons yang memberi ekstra tantangan dengan reward menggoda, di mana seiring jalannya progress kamu bisa menemukan lebih banyak dungeon semacam ini yang bisa diselesaikan berulang-ulang dengan akses shortcut lewat In-Between Theater. Meski termasuk konten yang cukup seru, sayangnya bagian ini ikut membawa sesuatu yang kurang mengenakan dan akan kami bahas lebih dalam di poin selanjutnya.

Bagian yang Kurang Mengenakan

Jadi dimulai dengan Outer Dungeons, kami mendapati kalau ada beberapa di antaranya yang memberimu akses untuk kebutuhan grinding spesifik seperti EXP, Gold, atau Material, tapi ketersediannya dibatasi lewat pembelian DLC terpisah. Ini tentu cukup mengecewakan apalagi karena akses ke konten serupa di JRPG lain biasanya tersedia gratis, sementara itu Time Stranger malah memisahnya sebagai opsi P2W terlepas dari tingkat kesulitan gamenya yang sudah lebih ramah dengan segala QoL baru. Penting untuk diketahui kalau kami memainkan versi Ultimate Edition dengan banyak bonus konten, tapi ternyata ini tidak termasuk dengan akses ke DLC Outer Dungeons khusus grinding yang baru bisa dibeli saat gamenya rilis nanti.

 

Selain itu bagi yang memainkan gamenya di platform PS5 seperti kami mungkin masih akan dibuat kecewa saat mendapati kalau game ini hanya mendukung 30 FPS. Sebuah keputusan yang sangat aneh, berhubung gamenya sama sekali tidak terlihat demanding dari sisi visual, apalagi dari sisi kualitas animasi yang masih kasar di beberapa tempat karena restriksi production value. Untuk sebuah JRPG yang hanya rilis di konsol generasi sekarang, tentu ada harapan kalau pihak developer bisa memaksimalkan optimalisasinya, tapi mungkin bagi yang ingin pengalaman bermain lebih mulus untuk sementara hanya bisa melirik PC.

Kesimpulan

Setelah melewati penantian panjang, kami rasa Bandai Namco dan Media.Vision berhasil mengambil langkah besar dalam menciptakan game Digimon impian. Bagi para fans seri lamanya terutama Cyber Sleuth akan mendapati begitu banyak perombakan manis demi kenyamanan bermain maksimal, meski di saat bersamaan bisa ikut mempengaruhi aspek tantangan yang setidaknya bisa ditambal dengan memainkan gamenya di tingkat kesulitan lebih tinggi. Meski mungkin terkesan sepele, dari sekian banyak QoL baru kami terutama sangat mengapresiasi dihilangkannya random encounter, dan karena ini memang sudah jadi elemen gameplay yang kami benci seiring beranjaknya usia.

Upaya untuk menyajikan cerita yang menggambarkan hubungan erat antara manusia dan Digimon berhasil dieksekusi dengan baik, yang mana spesifik untuk Time Stranger kami justru merasa kalau bintang utamanya memang lebih terasa kuat di Digimon. Terlepas dari beberapa kekurangan yang cukup disayangkan untuk menahan gamenya dalam mencapai versi ideal, tapi dengan roster yang cukup melimpah, cerita dengan tema yang lebih terfokus, dan pemaksimalkan pada sisi aksesibilitas yang ada, sulit rasanya untuk tidak merekomendasikan seri ini bagi fans Digimon manapun atau mereka yang ingin terjun ke franchisenya.

Meski begitu, di sisi lain kami juga perlu untuk memberi penekanan pada beberapa kekurangan yang memang cukup disayangkan, terutama pada pemberian paywall untuk konten grinding, penempatan momen-momen cerita yang tidak selalu pas, kelompok karakter manusia yang kurang memorable, hingga pembatasan performa di konsol.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.



Borderlands 4 Rilis 12 September!


Ingin mendapat update terkini dari Borderlands 4? Halaman all-in-one kami sudah merangkum berita, gameplay, ulasan, hingga perbandingan edisi penjualan yang bisa membantumu mendapat semua informasi sebelum memutuskan untuk terjun ke gamenya!



Kunjungi Halaman


Sampai jumpa di Kairos!



Hi guys, kami akhirnya sudah punya akun Twitter dan YouTube resmi! Langsung saja follow:

 

 




Jangan lupa untuk cek channel TikTok kami!

@gamerwk_id

The Review

Digimon Story Time Stranger

PROS

  • Cerita yang berhasil membawa temanya dengan baik dengan Digimon yang mendapat spotlight lebih kuat
  • Perombakan solid di sisi combat ditambah peran ekstra untuk Tamer
  • Akses Digivolution dan Conversion kapan saja, dihilangkannya Random Encounter, dan beragam tambahan QoL manis lainnya
  • Roster yang lebih melimpah dengan lebih dari 450 Digimon
  • Salah satu atau mungkin versi Digital World terbaik di franchisenya
  • Aksesibilitas maksimal sembari membuat gamenya lebih seru dan menantang untuk dimainkan

CONS

  • Penempatan beberapa momen cerita yang kurang pas termasuk penyajiannya
  • Karakter pendukung manusia yang lebih lemah dibanding seri terdahulu
  • Adanya konten grinding esensial yang dikunci dibalik DLC terpisah bahkan untuk pemilik Ultimate Edition
  • Versi konsol masih dibatasi di 30 FPS

Artikel ini Rangkuman Dari Berita : https://gamerwk.com/review-digimon-story-time-stranger/

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *