Review CODE VEIN II - Definisi Sekuel yang Berani!

Berkat kesuksesan manis yang diraih CODE VEIN dari sisi penjualan apalagi timing perilisannya di tahun-tahun saat genre soulslike sedang booming, tidak heran bagaiman Shift yang dikenal luas sebagai kreator dibalik God Eater langsung membuat sekuel untuknya. Hanya saja dengan jarak perilisan yang lumayan jauh hingga mendekati tujuh tahun, ada ekspektasi sekaligus tanda tanya yang berkutat pada sekuelnya yaitu CODE VEIN II.

Tim kami kebetulan sudah berkesempatan untuk memainkan versi penuhnya selama satu minggu terakhir, dan bisa dibilang kami akhirnya jadi lebih paham kenapa game ini butuh waktu lama untuk dikembangkan. Apa yang ditawarkannya berbeda dari tren sekuel untuk kebanyakan game di pasaran, karena selain berfokus untuk menyempurnakan bagian yang sudah familiar di seri pertama, pihak developer ikut memaksimalkan skalanya hingga jauh lebih besar dari perkiraan kami yang harus diakui memang berani.

Jalan Cerita

Meski diberi label “2” di judulnya, CODE VEIN II membawa cerita serta karakter original yang sepenuhnya berbeda, sehingga kamu tidak perlu khawatir akan kehilangan banyak konteks semisal memutuskan untuk langsung terjun ke seri barunya ini. Cerita bermula di dunia yang berada dalam ambang kehancuran karena invasi Luna Rapacis, entitas monster yang terlahir dari fenomena misterius bernama “The Resurgence” dan efek mengerikannya pada semua makhluk hidup.

Berbeda dari game pertamanya di mana kamu berperan sebagai Revenant alias semacam vampir, kali ini sang protagonis adalah Revenant Hunter yang meski memiliki misi demi melindungi umat manusia, mereka juga dianggap sebagai ancaman tersendiri bagi para Revenant yang ingin hidup damai di dunia tersebut. Takdir sang protagonis kemudian berubah drastis saat dia kembali bangkit dari kematian setelah mendapat separuh jantung dari gadis Revenant bernama Lou Magmell, yang mana dia ternyata memegang satu-satunya kunci penting untuk menyelamatkan dunia mereka, yaitu kekuatan untuk melintasi waktu.

Karena jiwa yang sudah saling terhubung dengan Lou, sang protagonis di sini juga memiliki peran krusial untuk mendampinginya dalam misi penting ini, di mana dia harus pergi ke masa lalu dan memperkuat potensi kekuatan Lou yang di awal masih lemah. Dinamisme antar karakter di sini menurut kami memang jadi diperkuat, belum lagi bagaimana Lou berujung lebih menarik dibandingkan karakter companion serupa di seri pertamanya dulu yaitu Io.

Meski adanya dinamisme yang lebih kuat tersebut, ini tidak benar-benar didukung dengan build up yang sepadan menurut kami, karena pacing cerita di CODE VEIN II bergerak terlalu cepat khususnya saat memperkenalkan karakter baru. Kami tidak merasa adanya perkembangan hubungan yang natural, seperti bagaimana karakter yang baru kamu temui bisa seolah jadi sahabat atau sejoli dekat hanya dalam waktu singkat. Tidak terkecuali dengan pengenalan karakter, contohnya Iris yang tiba-tiba muncul seperti semacam NPC padahal dia adalah partner yang bisa kamu ajak berpetualang.

Mengesampingkan itu, cerita yang ditawarkannya di sini masih cukup kuat dan penuh dengan momen emosional yang siap menyayat hati. Kami terutama sangat mengapresiasi bagaimana gamenya kembali membawa soundtrack ikonik “Memory of the Lost” yang juga dimainkan di porsi flashback, karena serangan emosional yang dibawa sebuah seri CODE VEIN rasanya memang kurang lengkap tanpa mendengarkannya di background.

Open-World yang Merubah Segalanya

Jika ada alasan utama kenapa CODE VEIN II butuh waktu lumayan panjang untuk dikembangkan, maka ini sudah pasti adalah faktor utamanya. Jadi selain menjawab feedback dan merombak komponen utama di seri terdahulu, gamenya kali ini juga diracik sebagai open-world. Kami sempat ragu di awal dan hanya berspekulasi, tapi setelah memainkannya langsung, skala eksplorasi hingga luas mapnya memang sangat masif. Ini tentu lumayan mengesankan, karena hingga sekarang pun belum banyak game soulslike yang juga didesain sebagai open-world kecuali contoh populer seperti Elden Ring.

Lalu bagaimana dengan eksekusinya? Jawaban singkatnya adalah cukup solid. Area eksplorasi di awal lumayan kecil karena baru dibatasi di Magmell Island, tapi setelah itu gamenya akan terbuka penuh saat kamu berhasil mencapai mainland. Kamu bisa bebas pergi ke mana saja selama masih termasuk dalam area yang diperbolehkan sesuai progress, dan kami mendapati kalau eksplorasinya lumayan seru karena dipenuhi rahasia seperti misi sampingan hingga dungeon opsional. Sensasi rewarding yang didapat dari saat memainkan game open-world yang menaruh perhatian pada “sense of discovery” berhasil diimplementasikan dengan baik di sini, termasuk dari kesan imersif karena adanya perubahan cuaca dinamis.

Untuk memudahkan eksplorasi terutama di area luas, karaktermu sudah dibekali sepeda motor yang mana gamenya bahkan ikut mendesain map dengan beberapa rute khusus untuk dilalui kendaraan juga. Sementara bagi yang ingin pergi ke beberapa lokasi jauh secara instan bisa melakukan fast travel antar Mistle alias checkpoint ala bonfire, yang mana kamu juga diberi akses untuk menaikkan level karakter, kustomisasi senjata, upgrade kemampuan healing (Regeneration), mengganti partner, dan lain sebagainya. Lalu untuk memperjelas tampilan map yang disamarkan, kamu perlu mengalahkan monster lemah Map Jammer yang sudah ditandai dengan warna keunguan di world map.

Sementara untuk area Hub utamamu adalah MagMell yang dipenuhi banyak fasilitas penting untuk memperkuat karaktermu, mode training, serta tempat untuk berinteraksi dengan rekan-rekan terdekat yang terutama penting untuk mendorong misi utama atau sampingan. Fungsinya kurang lebih masih sama dengan seri terdahulu, tapi kali ini area hub dibuat lebih luas dan hidup. Hot spring bahkan juga masih ada di sini hingga ditambahkan di area luar hub yang terkadang bisa memberi resep baru untuk item synthesis.

Sejauh ini semuanya terdengar komplit dan lumayan positif, tapi nyatanya masih ada kekurangan yang apalagi lebih terasa karena adanya pendekatan open-world. Pertama adalah kekurangan yang sayangnya masih terbawa yaitu minimnya variasi musuh, di mana kami mendapati selalu melawan beberapa jenis yang sama dengan mungkin sedikit variasi baru di sana-sini. Selain mob biasa, ini bahkan juga berlaku ke boss dan bagaimana banyak yang kami lawan ternyata adalah hasil recycle kecuali untuk boss di cerita utama.

Minimnya variasi ini sebenarnya juga kami rasakan di desain dunia dan area yang kebanyakan terlihat identik. Hanya saja kami tidak begitu mempermasalahkannya karena sisi eksplorasi di game ini masih seru, belum lagi bagaimana tema time travel mempengaruhi kondisi dunianya secara penuh, sehingga ada sensasi seolah menjelajah dua map open-world berbeda meski sejatinya masih berbasis di dunia yang sama dengan latar waktu berbeda. Desain level pun terutama sudah mendapat perhatian khusus sehingga kamu tidak akan dibuat frustasi dan kebosanan, sesuatu yang sepertinya sudah jadi pelajaran penting dari kasus Cathedral of the Sacred Blood di seri terdahulu.

Penyempurnaan Pas di Combat

Basis combat yang diusung masih relatif sama dengan beberapa perombakan dan penyesuaian. Dimulai dari yang paling kecil, kamu akan mendapati adanya perubahan istilah lama seperti Gifts alias skill menjadi Formae serta serangan Drain dari Blood Veil yang kini diasosiasikan dengan sistem equipment baru yaitu Jail. Karaktermu dibekali dengan empat slot untuk skill utama yang seleksinya sudah lebih diperbanyak termasuk untuk jenis senjata, dan tentu saja ada Blood Code yang berfungsi layaknya semacam sistem kelas untuk karakter dengan pengaruh spesifik pada semua stats utama serta trait khusus.

Intinya kamu akan mendapati sistem yang masih terasa familiar, tapi di saat bersamaan sudah jauh lebih diekspansi sehingga mendorongmu untuk lebih rajin bereksperimen dengan ragam build berbeda. Perbedaan signifikan baru terasa di sistem Partner / Companion yang kali ini memiliki peran lebih krusial. Kamu bisa mendapat beberapa bonus Trait berbeda saat memanggil mereka sebagai rekan di lapangan, atau dengan menggabungkan kekuatan dalam satu tubuh.

Mereka adalah petarung yang sangat tangguh dan bahkan bisa menghajar musuh secepat karaktermu. Meski berpengaruh ke tingkat kesulitan, penambahan opsi untuk menggabungkan kekuatan berujung sangat berguna karena kamu bisa bermain secara solo maupun duo dengan fleksibel, dan saat bermain secara solo pun kamu tetap akan mendapat bonus buff yang bisa sangat berguna untuk menjaga balancing kesulitannya.

Hanya saja di game ini kamu tidak sepenuhnya bisa bermain secara “solo” dan harus memilih partner. Selain karena alasan plot di mana karaktermu seolah berbagi jiwa dan ikatan kuat, ini juga karena sistem HP di gamenya telah dikombinasikan dengan LP yang merupakan armor dari partnermu. Selain itu karaktermu akan selalu revive setelah gugur terlepas dari partner mana yang dipilih bahkan meski mereka tidak bisa menemani di medan tempur langsung seperti Jadwiga. Ada penanda cooldown di bagian ikon partner, sehingga kamu bisa gugur beberapa kali sekaligus dalam satu pertempuran selama masih ada resource.

Bukankah ini membuat gamenya menjadi lebih mudah? Harus kami akui memang iya, tapi ekspansi dan perombakan sistem combat secara luas berujung pada pengalaman bermain lebih seru. Selama kamu tidak keberatan dengan mekanik revivenya, bermain secara solo terbukti lumayan menantang bagi mereka yang mengincar ekstra tantangan. Kami bahkan mendapati kalau solo run justru lebih nyaman, karena kamu bisa lebih berfokus menyita perhatian musuh yang terkadang bisa tidak terprediksi, kecuali dalam skenario pertarungan dengan banyak mob sekaligus maka menggunakan bantuan partner tentu jadi pilihan ideal.

Rotasi unik yang memungkinkanmu untuk selalu memiliki resource berupa Ichor untungnya tidak mendapat restriksi atau perubahan. Ichro sendiri berfungsi mirip dengan mana untuk eksekusi skill, tapi daripada mengandalkan item consumable yang terbatas, kamu bisa mengisinya dengan serangan Drain di sela-sela combat saat ada opening yang lebih aman. Karena tipe serangan ini juga berfungsi sebagai lethal blow saat musuh berada dalam kondisi stagger, maka kamu bisa melancarkan damage maksimal sekaligus mengisi ulang Ichor di saat bersamaan.

Dari semua perombakan yang ada di combat, bagian yang paling kami sukai justru malah ada di sensasinya. Hitstop serta efek suara saat serangan mengenai musuh kini memberi kesan lebih impactful, sehingga kami tidak lagi seperti mengibaskan senjata ke target yang tidak punya bobot. Begitu pula dengan animasi animasi karakter yang terasa lebih halus serta mempengaruhi responsivitas kontrol. Jadi selain dari tingkat kesulitan yang mungkin bisa lebih mudah karena sistem Partner yang baru, sistem combatnya secara keseluruhan sudah lebih superior.

Progression yang Lebih Bebas dan Familiar

Basisnya sebagai game open-world juga merubah progression secara drastis, yaitu dengan memberimu kebebasan penuh antara melanjutkan progress cerita, menjalani misi sampingan dengan fokus pada karakter spesifik, atau mengeksplor dunianya untuk grinding hingga mencari rahasia. Bahkan untuk misi cerita pun gamenya tidak memberi opsi linear, karena ada beberapa yang bisa kamu jalani sesuai pacing sendiri termasuk yang memberimu keputusan krusial antara merubah masa lalu atau tidak.

Sementara dari sisi progression untuk memperkuat karakter, tentu saja ada beragam opsi penting selain meningkatkan level. Beberapa yang terutama perlu diperhatikan adalah pemilihan Blood Code, senjata, seleksi skill Formae, Jail, hingga tambahan Booster sebagai sistem stat enhancer baru. Dalam upaya untuk membuat eksplorasi lebih rewarding, ada banyak senjata dan skill Formae yang bisa ditemukan di tempat-tempat opsional. Tapi dari semua opsi yang ada untuk memperkuat karakter, kamu terutama perlu memperhatikan “Burden” yang harus ditanggung karakter.

Ini adalah sistem yang memberi penalti bergantung dari beban attribut karaktermu, khususnya dari equipment serta Blood Code yang dipakai. Anggap saja konsepnya mirip dengan equipment load di kebanyakan game lain, bedanya jenis penalti akan berbeda dari tiap attribut. Sebagai salah satu contoh semisal attribut Fortitude terbebani, kamu akan selalu terkena status ailment Inhibit saat kehabisan stamina yang membatas akses ke skill Formae atau saat ingin menggunakan motorcycle. Kami rasa penerapan sistem ini lumayan kreatif karena faktor konsekuensi dari berbagai macam build daripada hanya membuat mobilitas karaktermu jadi lebih lamban seperti di kebanyakan game soulslike lain.

Kustomisasi Karakter dan Photo Mode Kelas Atas

Terlepas dari opini mengenai serinya, kami yakin banyak orang setuju kalau kustomisasi karakter yang ditawarkannya cukup luar biasa. Inilah yang menjadi salah satu bagian favorit banyak fans, dan kami dengan senang hati bisa mengonfirmasi kalau CODE VEIN II sudah memperkaya fitur ini dengan maksimal. Ada jauh lebih banyak opsi untuk mengganti wujud karakter bahkan hingga ke bagian yang tidak kami sangka bisa dikustomisasi.

Hanya saja karena ada perubahan style pada model 3D karakter dari desain lama Kurumi Kobayashi, upaya untuk mereplika karakter kami ke style lama terbukti lumayan sulit, karena ada beberapa bagian yang sayangnya tidak bisa dikustomisasi. Sebagai contoh, opsi struktur wajah lumayan terbatas dengan mulut karakter yang hanya tersedia dalam opsi default.

Wujud fisik karakter juga terbatas, karena baik model pria dan wanita sudah dibuat sedemikian rupa agar lebih cocok pada opsi defaultnya saja. Karena itu bagi yang ingin membuat karakter dengan wujud lebih muda atau tua, kurus atau gemuk, dan lain sebagainya mungkin akan mendapati proporsi tubuh yang kurang sesuai dengan imajinasi. Selain itu berhubung gamenya kali ini tidak mendukung online co-op, mungkin ada sebagian pemain yang tidak termotivasi untuk mengkresiasikan karakter mereka secara serius.

Tapi daripada kustomisasi karakter, kami justru dibuat lebih takjub pada fitur pendampingnya yaitu Photo Mode. Ragam opsi yang ditawarkannya sangat jauh melebihi ekspektasi, dan kami yakin banyak pemain pasti akan menghabiskan berjam-jam dengan fitur ini di sepanjang gamenya tanpa merasa bosan. Bagian yang paling kami sukai ada di ketersediaan mode Stationary yang memberi pause ke lingkungan sekitar, dan Real-Time saat gamenya berjalan normal yang juga bisa diatur pergerakan framenya. Ini karena selain mengambil foto, kamu jadinya bisa ikut merekam video dari aktivitas karakter dari angle mana saja sembari mengubah ekspresi serta emote.

Bahkan untuk emote kami sudah hitung secara manual karena terbawa penasaran akan jumlahnya yang banyak dan benar saja, game ini memberimu akses ke lebih dari 140 emote. Kerennya lagi, pengaturan ekspresi serta emote karakter pun berlaku ke NPC penting di sekitarmu seperti Jadwiga atau Lavinia meski mereka tidak playable. Ada perhatian yang sangat spesial di fitur ini, sampai-sampai ada menu setting khusus untuk mengatur kontrol Photo Mode dan opsi penting lain yang bisa memberi kenyamanan saat menggunakan fiturnya.

Optimalisasi yang Kurang di PS5

Kekhawatiran kami sayangnya terjadi dan lebih parah dari bayangan, karena dari sisi teknis CODE VEIN II harus diakui sangat buruk untuk PlayStation 5. Komplain terbesar kami ada di perbedaan FPS gamenya yang bisa berbeda drastis antara area outdoor dan indoor. Meski ada opsi untuk memprioritaskan gameplay action yang lebih mulus atau kualitas visual terbaik, kami sama sekali tidak merasakan adanya perbedaan antara kedua mode tersebut.

Karena itu untuk sebagian besar porsi gamenya kami hanya bermain di mode Graphics Priority yang bahkan juga tidak luput dari kekurangan di bagian yang seharusnya sudah dimaksimalkan. Beberapa masalah yang kami dapati sudah mencakup kualitas tekstur rendah dengan pop-in di sana-sini bahkan saat berada dalam cutscene cerita, efek blur yang terlalu berlebihan, draw distance buruk di mana musuh bisa tiba-tiba muncul dari jarak dekat, hingga pencahayaan yang tidak konsisten.

Jika performa dan visual buruk masih belum cukup, kami juga berkutat dengan beragam masalah teknis lain seperti hilangnya audio yang terjadi lumayan sering, terutama saat melawan monster raksasa di mana mereka sama sekali tidak mengeluarkan suara sehingga lebih sulit membaca pergerakan serangannya. Dan ada juga beberapa crash yang hampir semuanya terjadi saat kami mengakses mode Real-Time di Photo Mode.

Kesimpulan

Daripada bermain aman dengan meracik game serupa sembari menjawab feedback dari fans, ajungan dua jempol patut diberi ke Shift karena ambisi mereka untuk menjadikan CODE VEIN II sebagai game yang jauh lebih ambisius terutama dari skala konten. Terlepas dari masih jarangnya game soulslike berbasis open-world untuk dijadikan contoh, kami tanpa ragu bisa mengakui kalau CODE VEIN II berhasil menjawab premis tersebut sembari menyempurnakan formula yang sudah dicintai fans dari serinya.

Eksekusi open-world di sini sudah lumayan solid, baik dari sisi progression yang jauh lebih bebas dengan tambahan elemen time travel serta eksplorasi rewarding yang tidak pernah membosankan. Sementara untuk gameplay kini sudah dirombak dengan tambahan sistem baru juga, meski untuk sistem Partner akan dirasa terlalu overpowered bagi sebagian pemain ditambah solo run yang tetap memberi auto revive ke karaktermu.

Kami sempat menyinggung beragam kekurangan, tapi rasanya tidak ada yang lebih krusial dari masalah teknis di PlayStation 5 karena ini memang sangat mempengaruhi kenyamanan bermain. Karena itu bagi kamu yang tertarik melirik gamenya, kami sarankan untuk menunggu sampai ada update patch di masa depan atau melirik versi PC yang siapa tahu lebih dioptimalkan.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.

Hi guys, kami akhirnya sudah punya akun X dan YouTube resmi! Langsung saja follow:

 

 




Jangan lupa untuk cek channel TikTok kami!

@gamerwk_id

Artikel ini Rangkuman Dari Berita : https://gamerwk.com/review-code-vein-ii-definisi-sekuel-yang-berani/

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *