Preview Towa and the Guardians of the Sacred Tree - Roguelite yang Super Charming!

Dengan semakin banyaknya game yang mengadopsi genre sejenis, tantangan untuk menciptakan karya yang lebih unik tentu akan semakin terasa, dan ini memang wajib dihadapi para developer agar bisa bersaing untuk merebut perhatian gamer. Roguelike / roguelite termasuk salah satu dari contoh genre tersebut, dan Bandai Namco lewat kolaborasinya dengan developer Brownies berusaha membawa suatu dobrakan istimewanya sendiri lewat Towa and the Guardians of the Sacred Tree.

Diumumkan lewat ajang Summer Game Fest 2025 beberapa bulan lalu, game ini mungkin masih berada di luar radar sebagian orang, tapi kami yakin kalau para penggemar genrenya pasti akan mendapati sesuatu yang menarik bahkan meski dari modal menonton trailernya saja. Kami tidak ragu memberi komentar tersebut karena sudah berkesempatan untuk memainkan gamenya lebih awal sejak minggu lalu, dan impresi yang didapat sejauh ini bisa dibilang lumayan positif.

Tapi sebelum siap memberi review penuh, pada artikel ini kami sudah merangkum preview gamenya lebih dulu untuk memberi gambaran kualitas yang ditawarkannya di jam-jam pertama.

Fokus Besar Pada Cerita

Mengambil latar di sebuah dunia fantasi dengan nuansa Jepang kuno, ceritanya berfokus pada seorang gadis sakti bernama Towa yang ditugaskan oleh dewa Shinju untuk melindungi kedamaian desa yang dihuni para pengikutnya. Desa yang terletak di dekat pohon besar tempat dewa tersebut bersemayam tidak selamanya berada dalam perlindungan, karena ada saat di mana kedamaian dunia terancam oleh dewa jahat bernama Magatsu yang berusaha merusak aliran mana sembari melahirkan monster-monster dengan julukan Magaori.

Seiring berjalannya waktu Magaori terus mengonsumsi mana dan menyebar miasma berbahaya ke berbagai penjuru wilayah, tapi desa Shinju masih bisa bertahan berkat perlindungan Towa serta kedelapan rekan terpercayanya yang mendapat sebutan “Prayer Children.” Upaya mereka tidak mudah, karena ada momen di mana Magatsu berhasil memisahkan Towa dari para rekannya yang terlempar ke semesta lain dengan aliran waktu berbeda, sehingga mereka harus menemukan cara untuk kembali pulang serta menyelamatkan desa mereka. Sebenarnya masih ada beberapa lapisan menarik dari plot ini, tapi karena bersifat spoiler, kami rasa itu sudah cukup untuk memberi gambaran singkatnya.

Dibalik reputasi genrenya yang lebih memprioritaskan gameplay dari segalanya, kami cukup dibuat terkejut saat mendapati kalau Towa and the Guardians of the Sacred Tree memberi porsi cerita yang cukup padat. Mulai dari bagian intro yang diisi artwork menawan dan sinopsis dengan nada halus oleh sang narator, hingga interaksi antar karakter saat berada di desa hingga di tengah ekspedisi seiring jalannya progress, kami rasa tidak ada banyak momen di mana karaktermu akan membisu. Bahkan kamu mungkin akan merasa kalau di jam-jam pertama ada lebih banyak porsi dialog dibanding gameplay, tapi itu tentu saja bergantung dari pacing bermain juga.

Sensasi yang kami dapati bahkan terasa mirip dengan memainkan JRPG atau visual novel dibanding roguelite pada umumnya, sehingga mereka yang bisa mengapresiasi cerita padat dalam suatu game terlepas dari genrenya pasti akan bisa mengapresiasi pendekatan ini. Untuk semakin memberi akomodasi bagi mereka yang ingin menikmati cerita tanpa progress brutal, gamenya sudah menyediakan opsi tingkat kesulitan “Story Mode.” Kamu bisa menaikannya ke “Normal” kapan saja semisal ingin merasakan gameplay lebih menantang, meski kami jujur merasa kalau tingkat kesulitan tersebut masih relatif terlalu mudah untuk standar game roguelite.

Roguelite dengan Keunikan Khasnya Sendiri

Meski dengan adanya perhatian lebih pada sisi cerita, ini bukan berarti pihak developer tidak memberi perhatian serupa ke gameplay yang tentu menjadi kunci penting dalam roguelite, dan mereka ternyata juga berhasil membawa pendekatan uniknya sendiri. Keunikan tersebut ada di seleksi karakter yang bisa kamu mainkan, di mana dalam gamenya kamu bisa membentuk semacam party kecil beranggotakan dua orang dengan role berbeda. Pertama adalah “Tsurugi” yang berperan sebagai petarung utama yang kamu kendalikan langsung, dan “Kagura” yang berperan sebagai support untuk melancarkan serangan jarak jauh di mana kamu juga bisa mengendalikan mereka secara manual.

Semua Prayer Children adalah karakter playable, di mana gamenya ikut menyesuaikan sebagian gaya bertarung mereka agar lebih cocok untuk dijadikan sebagai Tsurugi atau Kagura, tapi kamu tetap bisa membangun formasi sebebas mungkin terlepas dari rekomendasi yang ada. Seperti yang kami sebut tadi, Tsurugi akan jadi karakter utama yang kamu kendalikan di sebagian besar porsi combatnya, di mana aksi mereka berfokus pada penggunaan dua jenis pedang (Honzashi dan Wakizashi) yang harus kamu switch secara konsisten. Maksudnya kamu tidak bisa menggunakan jenis pedang yang sama setiap saat, karena masing-masing punya durability yang sangat rapuh dan hanya bisa dipulihkan dengan cooldown saat switch ke pedang yang lain dengan eksekusi “Quick Draw.”

Pendekatan ini otomatis memaksamu untuk memanfaatkan seluruh skill utama karakter. Ini sebenarnya adalah ide yang cukup jitu untuk menyita fokus saat bermain sembari mencegah repetisi, tapi di sisi lain tempo combat jadi bisa ikut melambat dari yang diinginkan. Misalnya sebagian karakter memiliki skill Wakizashi yang terlalu lambat dan lebih mengandalkan aksi charging, sehingga kamu harus lebih menjaga jarak dari musuh agar bisa mengeksekusinya dengan aman terutama saat melawan boss. Barulah setelah durability Honzashi pulih kamu bisa bertarung secara lebih frontal berkat skill serangan cepatnya. Selebihnya Tsurugi dibekali dengan aksi “Fatal Blow” alias semacam teknik ultimate yang mengonsumsi mana, dan ini bisa jadi penyelamat di begitu banyak skenario berkat efek kebal / invincibility yang diberi saat mengeksekusinya.

Lalu bagaimana dengan Kagura? Seperti yang kami jelaskan tadi, peran mereka lebih ke support yang melancarkan serangan jarak jauh, dan biasanya tidak perlu sampai harus dikontrol kecuali untuk melancarkan serangan sihir. Meski begitu gamenya masih menyediakan opsi untuk mengontrol mereka yang menurut kami di awal terasa aneh, tapi ini jadi masuk akal setelah kami beralih memainkan gamenya dari mouse dan keyboard ke kontroler.

Saat bermain dengan keyboard dan mouse, pergerakan Kagura juga disesuaikan dengan tombol keyboard, sehingga ini tidak terasa intuitif karena kamu akan sulit mengendalikan dua karakter dengan satu tangan saja karena yang satu lagi harus berada di mouse. Jika kamu tidak ingin mengendalikan Kagura, maka karakternya akan terus menempel ke Tsurugi yang bisa cukup riskan saat berhadapan dengan gerombolan musuh atau boss berbahaya, sehingga memecah keduanya adalah solusi yang bisa sangat efektif. Saat beralih ke kontroler, kami jadi lebih mudah mengendalikan Tsurugi dan Kagura secara bersamaan yang masing-masing sudah diset untuk kedua analog stik, meski tentu perlu waktu sampai benar-benar terbiasa karena adanya pemecahan fokus juga pada manuver dari dua karakter berbeda yang dimainkan secara bersamaan.

Masih soal kontrolnya saat menggunakan keyboard dan mouse, kami mendapati kalau kamu hanya bisa menyerang musuh dengan menyesuaikan pergerakan karakter yang menghadap ke arah musuh, jadi tidak ada opsi untuk mengarahkan serangan dengan mouse selain hanya sebatas pada eksekusinya saja. Tidak berhenti sampai di situ, pergerakan directional karakter juga terasa lebih kaku yang otomatis juga mempengaruhi keseruan bermain karena keterbatasan pada manuvernya tersebut. Karena semua alasan itulah, kami benar-benar sangat merekomendasikanmu untuk memainkan game ini dengan kontroler, karena perbedaannya memang begitu drastis.

Selebihnya aspek roguelite dalam game ini terbilang cukup standar baik dari desain level serta sistem progressionnya. Kamu perlu melewati stage bercabang yang dipenuhi gelombang musuh untuk dilawan, mengklaim reward yang disesuaikan dengan performa selama pertarungan, dan memperkuat karakter dengan buff atau artifak khusus yang dalam game ini diberi nama “Grace”.

Setiap Grace memiliki rarity dan efek yang diberi lumayan signifikan bahkan meski dari jenis Common sekalipun, jadi bagi kamu yang awam dengan game roguelite tidak akan dibuat terlalu kebingungan untuk memilih. Ada beragam material yang juga bisa dikoleksi sepanjang jalannya permainan untuk memperkuat stats karakter dan lain sebagainya, yang kesemuanya akan kami simpan terlebih dahulu untuk review penuh nanti termasuk untuk konten sampingan dari gamenya secara penuh.

Sisi Presentasi yang Begitu Indah dan Karakter Memorable

Sebelum mengakhiri preview kali ini, kami juga ingin memberi apresiasi pada art direction gamenya yang luar biasa indah. Datang dari developer Brownies yang ikut mengembangkan seri Doraemon Story of Seasons, mereka berhasil menjaga style visual layaknya lukisan hidup dan memaksimalkannya ke tingkatan kualitas baru lewat game ini. Baik itu dari artwork karakter, desain map, hingga beberapa elemen UI dibuat dengan style yang menawan.

Kami terutama sangat suka dengan desain karakternya, terutama Towa dan para Prayer Children yang tidak terasa generik, apalagi berkat pembawaan unik masing-masing yang membuat mereka begitu hidup. Berkat adanya opsi untuk membangun party dengan dua karakter yang bisa dipilih secara bebas, kamu juga akan melihat sekian banyak interaksi personal dari para karakter-karakter ini antar satu sama lain yang ikut memaksimalkan sisi replaybility gamenya.

Sebagai contoh kami memilih sang ikemen Akazu dan waifu paling dewasa dalam party Origami di ekspedisi pertama. Meski kita tidak diperlihatkan pada interaksi antar keduanya sama sekali di sepanjang jalannya cerita hingga di titik tersebut, tapi lewat ekspedisi tadi mereka berdua nampak sangat kompak, dan bahkan ada momen saat mereka mengobrol santai di bonfire yang tidak hanya diselingi momen kocak, tapi juga latar belakang lebih dalam mengenai masing-masing karakter yang berbeda dari penampilan mereka. Misalnya bagaimana Akazu ternyata sangat rawan terkena sakit bahkan meski melakukan tugas ringan, sedangkan Origami justru hampir tidak pernah terkena penyakit selama hidupnya. Momen-momen inilah yang membuat Towa and the Guardians of the Sacred Tree begitu spesial bagi kami.

Impresi Sejauh Ini..

Sulit untuk membahas Towa and the Guardians of the Sacred Tree tanpa menjabarkan semua poin di atas, karena kami bisa mendapati daya tarik terkuat maupun beberapa bagian terlemah gamenya di jam-jam pertama. Setidaknya dari impresi awal yang diberi, ada beragam aspek yang berbeda dari ekspektasi kami, terutama pada porsi cerita yang lebih padat dibanding kebanyakan roguelite di pasaran. Gamenya pun ikut memberi perhatian khusus pada sisi gameplay yang hadir dengan keunikan tersendiri lewat sistem party berbasis duo yang kaya eksperimen dan koordinasi kontrol, meski sayangnya game ini memang sangat tidak dioptimalkan untuk mouse dan keyboard.

Selain itu ada pertimbangan dari sisi tingkat kesulitan yang terbilang cukup mudah, dan kami bahkan belum satu kali pun gugur setelah melewati ekspedisi ketiga. Jadi bagi kamu yang mengharapkan roguelite dengan gameplat brutal dan intens mungkin akan dibuat kecewa, tapi kami bisa saja akan dibuat babak belur pada ekspedisi selanjutnya, sehingga ini masih terlalu awal untuk benar-benar disimpulkan kecuali jika merujuk pada beberapa jam awal.

Towa and the Guardians of the Sacred Tree sendiri rencananya akan rilis pada 19 September mendatang untuk PlayStation 5, Xbox Series, Nintendo Switch, dan PC. Untuk detail mengenai gamenya serta akses pre-order bisa langsung kamu cek lewat website resmi mereka DI SINI.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.


Hi guys, kami akhirnya sudah punya akun Twitter dan YouTube resmi! Langsung saja follow:

 

 




Jangan lupa untuk cek channel TikTok kami!

@gamerwk_id

Artikel ini Rangkuman Dari Berita : https://gamerwk.com/preview-towa-and-the-guardians-of-the-sacred-tree-roguelite-yang-super-charming/

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *