Berbeda dari dua game sebelumnya yang banyak mengangkat semangat petualangan khas manga / anime shōnen, seri ketiga ini membawa nuansa yang lebih dewasa dan mendalam. Tsujimoto menjelaskan kalau mereka ingin memperkuat struktur cerita serta menggali pengalaman para karakter dengan sesuatu yang lebih kompleks. “Dalam Stories 1 dan 2, kami melihat dunia terutama dari sudut pandang Rider. Sementara di game ketiga ini, kami ingin membuat alur cerita yang lebih solid dan terstruktur, sesuatu yang bisa menggali pengalaman mereka dan dunia sekelilingnya dengan lebih dalam.”
Kawano kemudian menambahkan kalau arah seni dan presentasi visual juga mengikuti kedewasaan cerita. “Kali ini dunia dalam gamenya jauh lebih kompleks, jadi arah visualnya pun harus mencerminkan kematangan itu. Kami ingin sesuatu yang terasa epik dan lebih seperti film daripada seri.” Dengan latar dua kerajaan besar yang terlibat konflik ideologis, nuansa cerita menjadi lebih berat dan sinematik dibandingkan game sebelumnya.
Menjaga Jiwa Monster Hunter dalam JRPG
Tsujimoto tidak menutupi kalau JRPG bukan genre yang paling familiar bagi banyak tim di Capcom selain pengalaman lama mereka dengan Breath of Fire. Tapi Stories adalah kesempatan untuk menggabungkan dunia Monster Hunter dengan gaya bermain yang lebih naratif. Meski begitu, satu hal yang tidak pernah berubah adalah fokus pada monster.

Tsujimoto menjelaskan, “Kuncinya adalah monster. Mereka selalu menjadi sorotan utama seri ini. Meskipun dunia ini bercerita tentang Rider, monster tetap berada di pusat segalanya sebagai ekosistem yang terhubung dengan manusia serta emosi yang mereka bangkitkan.”
Takahiro Kawano juga membagikan kalau latar dunia dalam Stories 3 terinspirasi dari keindahan alam dunia nyata. “Ya jawabannya adalah Switzerland. Dunia yang kalian lihat, terutama adegan awal dengan danau besar dan kastil, terinspirasi dari keindahan alam Swiss.” Inspirasi ini membuat dunia dalam game terasa lebih megah dan nyata, memperkuat nuansa sinematik yang menjadi arah utama seri ketiga ini bagi mereka yang ingin merasakan petualangan JRPG epik dengan dunia menawan.
Tema Kepunahan Rathalos dan Konflik Dua Kerajaan
Salah satu aspek paling menarik dalam cerita Stories 3 adalah ide kalau Rathalos yang merupakan ikon seluruh serinya dikatakan telah punah. Menurut Tsujimoto, hal ini bukan sekadar bumbu drama. “Kepunahan itu tidak hanya untuk efek dramatis, tapi memang terhubung langsung dengan tema utama game ini.”
Dia menjelaskan kalau dalam dunia ini terjadi fenomena mirip kristalisasi atau fosilisasi, dan dua kerajaan memiliki interpretasi yang berbeda terhadap peristiwa tersebut. Perbedaan pandangan ini menjadi sumber konflik ideologis yang memperkaya narasi. “Cerita ini mengeksplorasi perbedaan antara negara, kepercayaan, bahkan cara memahami monster itu sendiri. Ini adalah kisah tentang kontradiksi dan bagaimana manusia (dan monster) menghadapinya seiring waktu.”
Sistem Combat yang Lebih Cepat dan Dinamis
Berdasarkan feedback dari pemain game sebelumnya, Capcom memprioritaskan peningkatan tempo pertempuran. “Peningkatan terbesar ada pada tempo pertempuran. Pada game sebelumnya, banyak pemain merasa combat masih terlalu lambat, bahkan dengan opsi 2x atau 3x speed. Jadi kali ini, kami membuatnya jauh lebih cepat dan mulus.”

Selain itu, eksplorasi dunia juga dibuat lebih dinamis. Kini pemain kini bisa memanjat, terbang, dan berenang, sehingga medan yang ditempuh terasa lebih hidup sebagai bagian dari petualangan. Pemain juga bisa mengganti monstie secara real time untuk membuat pengalaman bertarung lebih fleksibel.
Karakter yang Lebih Matang dan Aktif
Tsujimoto menegaskan kalau perubahan desain karakter tidak hanya terjadi pada bentuk tubuh atau kepala, tapi pada keseluruhan presentasi. “Karena game ini lebih fokus pada nuansa JRPG, seluruh anggota party, kerja sama tim, dan ikatan, kami mendesain karakter dengan kepribadian dan cerita yang lebih kuat.” Dengan karakter yang lebih beragam, pemain diharapkan bisa lebih terhubung secara emosional dengan perjalanan mereka.
Jika di game sebelumnya Navirou berperan sebagai penerjemah emosi protagonis, kali ini peran itu bergeser. “Dalam Stories 1 dan 2, karakter utama tidak berbicara, jadi Navirou berfungsi sebagai penerjemah dan pemandu cerita. Tapi di Stories 3, protagonis akhirnya bisa berbicara. Rudy yang menggantikan peran Navirou lebih seperti partner dan pendukung daripada sekedar pemandu. Karakter utama sekarang adalah Rider berpengalamanm jadi dia tidak lagi butuh seorang ‘guru’.” Perubahan ini membuat dinamika cerita lebih seimbang antara protagonis dan karakternya.
Sistem Combat Ramah Pemula dan Tetap Strategis untuk Veteran
Tsujimoto menyadari kalau sistem combat berbasis turn based bisa terasa rumit bagi pemain baru. Karena itu, tim mereka telah membuat sistem tutorial yang komprehensif. “Kami ingin menciptakan sistem combat yang strategis tapi tetap menyenangkan. Setiap pertemuan dengan monster akan terasa seperti puzzle sendiri dan akan memberi pemain semacam ujian akan rencana, senjata, pemilihan item, dan lain sebagainya”
Selain itu, pemulihan setelah pertempuran kini dibuat otomatis, sehingga pemain tidak perlu khawatir terus-menerus mengatur persediaan resource penting. Tujuannya adalah mengurangi stres dan menjaga pengalaman bermain tetap seru.
Artikel ini Rangkuman Dari Berita : https://gamerwk.com/gcaxthgs25-wawancara-monster-hunter-stories-3-dengan-capcom-spotlight-abadi-yang-masih-diberi-ke-rathalos/