Kami menghabiskan sekitar tujuh jam mencoba Sea of Remnants, proyek terbaru dari tim Joker Studio yang sebelumnya dikenal lewat Identity V. Dari pengalaman hands-on ini, Sea of Remnants langsung terasa sebagai game yang berbeda jauh dari karya mereka sebelumnya. Baik dari cerita, pembangunan dunia, sampai gameplay-nya, semuanya punya arah baru, meski tetap membawa gaya visual dan kepribadian kuat khas tim pengembangnya.
Setelah menjelajahi dunia game ini cukup lama secara langsung selama 7 jam, jelas terlihat bahwa Sea of Remnants memadukan humor absurd dengan nuansa romantis yang halus, membuat setiap pelayaran terasa penuh rasa penasaran dan antisipasi. Gimana detailnya? Mari simak!

Bajak Laut, Boneka, dan Ingatan
Walaupun datang dari studio yang sama, Sea of Remnants tidak melanjutkan nuansa gelap dan penuh ketegangan seperti Identity V. Game ini justru membahas tema “diri dan ingatan” dengan pendekatan yang jauh lebih ringan, tapi tetap menyimpan lapisan filosofi di dalamnya. Di dunia ini, para bajak laut digambarkan seperti boneka. Ingatan mereka perlahan larut ke laut dalam bentuk cairan magenta yang mengalir keluar dari kepala mereka, namun kehilangan ini justru menjadi dorongan untuk terus melangkah maju.
Tim pengembang menekankan bahwa para bajak laut di Sea of Remnants tidak lagi berkutat pada pertanyaan eksistensial seperti “siapa diri saya”. Mereka hidup dengan prinsip menikmati momen saat ini dan tidak terlalu memikirkan hal yang terlalu berat. Setiap pelayaran membentuk sebuah siklus, berlayar ke ujung laut, menemukan kebenaran, memilih untuk melupakan, lalu kembali berlayar lagi. Struktur yang terus mengulang ini menciptakan rasa romantis yang unik, membuat dunianya terasa ringan tapi juga punya kedalaman emosional.

Eksplorasi Open-World yang Luas
Sea of Remnants membagi pengalaman bermain ke dalam dua ruang utama, yaitu Pirate City dan dunia lautan terbuka. Keduanya memberikan kontras yang jelas antara kehidupan sehari-hari dan eksplorasi jarak jauh, sekaligus memberi kebebasan bagi pemain untuk menentukan aktivitasnya sendiri.
Pirate City menjadi jantung utama game ini dan terasa sangat hidup. Tim pengembang menciptakan sekitar empat ratus NPC bajak laut dengan nama, latar belakang cerita, dan rutinitas harian masing-masing, ditambah ribuan karakter kecil lainnya. Hasilnya adalah kota yang terasa ramai dan imersif.

Saat berjalan di jalanan kota, pemain bisa melihat interaksi alami antar karakter, mendengar percakapan acak, dan menemukan kebiasaan kecil yang membuat setiap bajak laut terasa unik. Pirate City terasa seperti panggung teater boneka yang terus bergerak, penuh detail kecil, pesona, dan kepribadian.
Berbanding terbalik dengan suasana kota yang padat, dunia lautan terasa sangat luas. Pengembangannya sudah dimulai empat tahun lalu, dan skala pulau terus diperbesar dari waktu ke waktu. Setiap wilayah laut dirancang agar punya alasan eksplorasi yang berbeda.
Meski sesi preview hanya mencakup sebagian kecil peta, desain pulau, ekologi, dan event yang muncul menunjukkan bahwa ini adalah dunia yang benar-benar dipikirkan matang, bukan sekadar area kosong untuk diisi.

Ritme Eksplorasi yang Nyaman
Hal yang paling menonjol dari Sea of Remnants adalah ritme eksplorasinya yang terasa pas. Game ini tidak langsung membanjiri pemain dengan quest sejak awal atau memaksa memahami semua sistem sekaligus. Pemain diberi ruang untuk mengenal dunia secara perlahan dan alami.
Di kota, pemain bisa santai mencari harta karun, mengobrol dengan NPC, melihat-lihat toko, atau sekadar ikut minigame. Di pulau-pulau, pemain bisa mengumpulkan sumber daya, melawan monster, menyelesaikan quest, dan menemukan event acak. Semuanya terasa seimbang, tidak terlalu sederhana tapi juga tidak melelahkan.

Minigame yang Ternyata Niat
Salah satu kejutan terbesar datang dari kualitas minigame-nya. Mulai dari Sichuan Mahjong, game ritme, balapan minum bir, ular tangga, sampai permainan kartu gunting batu kertas, semuanya dibuat dengan perhatian detail.
Mahjong misalnya, mengalir mulus dari lempar dadu sampai mengambil dan mengklaim tile. Game ritmenya mengingatkan ke Rhythm Tengoku, sementara tantangan balapan bir yang terdengar konyol justru terasa seru. Yang paling penting, semua minigame ini opsional dan tidak memaksa pemain, membuatnya ringan, bisa diulang kapan saja, dan tetap menyenangkan.

Turn-Based yang Seru dan Bervariasi
Pertarungan di darat menggunakan sistem turn-based berbasis kecepatan, tanpa action point rumit atau statistik yang membingungkan. Karakter punya serangan dasar, skill, dan ultimate, sehingga mudah dipahami. Namun, seiring naik level, kedalaman sistemnya mulai terasa.
Pemain bisa mempelajari berbagai Shanties, yaitu buff dengan beragam tag. Jika syarat tertentu terpenuhi, Shanties ini membuka jalur class baru. Satu karakter bisa dikembangkan menjadi tank, damage dealer, support, atau peran utilitas lainnya. Kebebasan membentuk tim terasa sangat luas dan fleksibel.
Sorotan utama sistem combat ada di mekanik dadu. Setiap aksi menghasilkan poin peningkatan yang bisa digunakan untuk melempar dadu. Saat musuh membuka kelemahan atau punya atribut rentan, hasil lemparan dadu bisa menentukan jalannya pertarungan. Angka tinggi bisa memperkuat serangan atau memberi aksi tambahan.

Mekanik dadu ini juga muncul di eksplorasi open-world. Jika pemain menyerang musuh lebih dulu, lemparan dadu akan menentukan apakah pemain mendapat serangan pendahuluan. Jika angka pemain lebih tinggi dari musuh, seluruh kelompok musuh akan terkena serangan sebelum pertarungan dimulai.
Pengalaman membalikkan keadaan lewat lemparan dadu terasa menegangkan, seperti berjudi di sarang bajak laut. Unsur ini membuat pertarungan sederhana pun terasa dramatis dan penuh kejutan.

Ada Naval Combat Coy
Pertarungan kapal memang tidak mendominasi gameplay, tapi terasa sangat menarik. Pemain harus mengendalikan arah kapal, menjaga jalur pelayaran, dan menembakkan meriam secara bersamaan. Tantangannya aktif dan memuaskan.
Dalam sesi preview memang belum ada pertarungan bos besar, tapi tim pengembang sempat menunjukkan konten lanjutan. Sebuah kapal kecil melawan monster laut raksasa, lengkap dengan ombak besar, bayangan di bawah air, raungan keras, dan guncangan hebat. Sekilas saja sudah cukup untuk menaikkan rasa penasaran.

Kesimpulan
Berdasarkan pengalaman preview ini, Sea of Remnants adalah game yang patut diperhatikan. Game ini tidak menjual ukuran peta atau kerumitan sistem semata, tapi menawarkan dunia yang terasa hidup, aneh, dan penuh karakter. Eksplorasinya nyaman, minigame-nya mengejutkan, sistem pertarungannya unik, dan tema cerita yang memadukan romantisme dengan siklus lupa dan ingat memberi identitas kuat.
Jika kualitas di versi final bisa mempertahankan apa yang ditawarkan di preview ini, Sea of Remnants berpotensi menjadi dunia yang ingin terus dikunjungi. Berlayar, menemukan sesuatu, melupakan, lalu kembali berlayar lagi, berulang tanpa terasa membosankan.
Sea of Remnants akan dirilis pada Android, iOS, PlayStation 5, dan juga PC melalui Steam. Kamu bisa kunjungi situs resminya DI SINI untuk berbagai informasi lebih lanjut.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id
Artikel ini Rangkuman Dari Berita : https://gamerwk.com/nyobain-sea-of-remnants-berlayar-di-dunia-bajak-laut-yang-aneh-tapi-menarik/