Preview Resident Evil Requiem – Dua Gaya Bermain, Satu Lokasi, dan Teror yang Konsisten

Kami menghabiskan sekitar tiga jam mencoba Resident Evil Requiem, dan kesan awalnya terasa sangat positif. Game ini berhasil mencampurkan horor, ketegangan, dan aksi dengan cukup seimbang, membuat setiap pertemuan terasa intens dan tidak pernah benar-benar aman. Dalam sesi preview ini, kami bermain sebagai dua karakter, Leon dan Grace. Sekitar tiga puluh menit dihabiskan bersama Leon, sementara sisanya kurang lebih dua setengah jam fokus ke Grace.

Dari nuansa keseluruhan, perbedaan gaya bermain keduanya langsung terasa jelas. Gameplay Leon jauh lebih condong ke aksi, sangat mengingatkan ke Resident Evil 4 dan Resident Evil 6. Sementara itu, Grace lebih fokus ke puzzle, manajemen item, dan menghindari musuh, dengan atmosfer yang kuat seperti Resident Evil 2 dan Resident Evil 7.

Seluruh sesi preview berlangsung di satu lokasi yang sama, yaitu Rhodes Hill Chronic Care Center, tempat yang juga muncul di trailer saat Leon masuk dan menemukan semua orang di dalamnya sudah terinfeksi. Seperti apa detailnya? Mari simak artikelnya!

Leon – Action Cepat dan Tekanan Tanpa Henti

Gameplay Leon dibuka dengan dirinya yang terus berkomunikasi dengan seseorang lewat radio, meski identitasnya belum dijelaskan. Sistem inventarisnya sangat mirip dengan attaché case dari Resident Evil 4, memungkinkan pemain mengatur posisi item secara bebas.

Di awal permainan, Leon dibekali tiga senjata, yaitu revolver Requiem, pistol, dan hatchet. Hatchet ini berfungsi mirip pisau di Resident Evil 4 dan memiliki durabilitas. Menariknya, pemain bisa memperbaiki durabilitas hatchet menggunakan sharpening stone dengan menekan L1 dan Square di PlayStation 5. Hatchet juga bisa digunakan untuk parry serangan dengan L1.

Namun, jika berhasil memparry serangan chainsaw, durabilitasnya langsung habis dan harus diasah lagi. Dalam sesi demo, hatchet masih bisa digunakan berkali-kali setelah diasah, meski belum jelas apakah ada musuh tertentu yang bisa menghancurkannya sepenuhnya atau tidak bisa diparry.

Chainsaw sendiri menjadi mekanik yang terasa sangat berbahaya. Musuh bisa menjatuhkan chainsaw, dan Leon bisa mengambilnya. Tapi jika diambil saat masih menyala, Leon akan menerima damage kecuali chainsaw tersebut ditembak lebih dulu atau dibiarkan mati sendiri. Yang bikin tegang, zombie lain juga bisa mengambil chainsaw itu, bahkan melemparkannya ke arah pemain. Menggunakan chainsaw terasa brutal dan liar, lebih mengandalkan kekuatan mentah dibanding kontrol presisi.

Jika hatchet kehabisan durabilitas atau parry meleset, satu serangan chainsaw bisa langsung membunuh. Ada juga situasi di mana zombie saling menyerang, membuat chainsaw tersangkut di tubuh zombie lain. Jika zombie tersebut mendekat, hasilnya tetap bisa kematian instan. Kalau pemain tidak segera mengambil chainsaw, zombie lain juga bisa memanfaatkannya. Desain ini terasa jauh lebih mengancam dibanding Resident Evil 4, karena ancaman chainsaw tidak lagi terbatas pada satu musuh saja. Level desainnya juga mendorong pemain untuk terus bergerak memutar sambil mengelola tekanan musuh.

Setelah bagian ini, Leon menyerahkan revolver Requiem ke Grace, dan sudut pandang permainan pun berpindah.

Di sesi Leon berikutnya yang berlangsung sekitar lima belas menit, gameplay kembali fokus ke aksi berat dengan musuh yang mirip dengan bagian Grace, tapi dengan pendekatan tembak-menembak yang lebih agresif. Bagian ini berujung pada pertarungan bos yang muncul di trailer, yaitu makhluk raksasa berbentuk bayi. Dalam pertarungan ini, mode first-person terasa sangat mirip dengan perspektif Ethan di Resident Evil Village, meski animasi tendangan dan eksekusi tetap kembali ke third-person.

Leon juga mendapatkan shotgun dengan amunisi terbatas. Pola pertarungan bosnya terasa sangat familiar, mengumpulkan peluru, memancing bos bergerak, lalu menyerang di momen yang tepat. Setelah pertarungan selesai, permainan kembali ke area utama yang sama dengan bagian Grace. Meski peta sama, Leon bisa membuka area atau mengambil item tertentu yang tidak bisa diakses Grace.

Menurut penjelasan produser saat wawancara, Leon dan Grace berbagi peta dan musuh yang sama. Musuh yang tidak dikalahkan saat bermain sebagai Grace akan tetap ada saat bermain sebagai Leon. Beberapa musuh elite juga bisa menjatuhkan item langka seperti charm atau koin.

Secara keseluruhan, gameplay Leon terasa cepat, agresif, dan sangat memuaskan. Amunisi cukup longgar, dan pemain bisa menghemat peluru dengan menembak kaki musuh lalu melakukan eksekusi. Kombinasi hatchet dan chainsaw memberi kedalaman baru yang segar pada sistem combat.

Grace – Bertahan Hidup di Tengah Ketakutan

Gameplay Grace terasa sangat dekat dengan Resident Evil 2. Di awal, inventarisnya hanya punya delapan slot, memaksa pemain untuk benar-benar selektif membawa item dan menyimpan sisanya di item box. Item kunci juga memakan slot inventaris. Setelah mendapatkan small pouch, dua slot tambahan terbuka, sistemnya hampir identik dengan Resident Evil 2.

Dalam demo ini, Grace bisa menemukan berbagai item seperti botol kaca, pisau kecil, lockpick, injector, herb, scrap material, dan lainnya. Fokusnya bukan cuma mencari item, tapi juga crafting. Pemain harus menemukan tabung item kunci tertentu dan menggunakan komputer untuk memecahkan puzzle molecular modeling demi membuka resep crafting. Setelah resep terbuka, pemain bisa membuat peluru, item pemulihan, atau senjata stealth kuat berbasis darah, yang dikumpulkan lewat mekanik blood collection.

Gaya bermain Grace sangat mengandalkan stealth. Pemain didorong untuk menghemat peluru, menghindari musuh, dan bergerak pelan-pelan. Berbeda dengan Leon yang berperan sebagai penyerang, Grace terasa seperti penyintas yang berusaha hidup sambil memecahkan puzzle.

Puzzle-puzzlenya sendiri sangat mengingatkan ke Resident Evil 2 dan Resident Evil 7, mengharuskan pemain membaca dokumen, mengamati gambar, dan bolak-balik ke lokasi puzzle untuk menerapkan petunjuk. Beberapa puzzle bahkan menuntut pola pikir ala detektif, dan pemain bisa membuka kembali dokumen yang sudah dikumpulkan untuk mencari petunjuk tambahan.

Dalam hal combat, Grace jauh lebih jarang bertarung. Namun, reaksinya justru memperkuat nuansa horor. Nafas yang terengah, gerakan panik, dan teriakan saat membunuh zombie membuat setiap pertemuan terasa lebih personal dan menegangkan. Dalam tampilan third-person, rasa horornya sedikit berkurang, meski tetap terasa dari animasi lari dan hampir terjatuh.

Map dan Zombie yang Lebih Pintar

Karena berlatar di Rhodes Hill Chronic Care Center, sebagian besar zombie adalah dokter, perawat, petugas kebersihan, dan pasien. Latar ini penting karena memperkenalkan tipe zombie baru dengan perilaku unik. Beberapa zombie bahkan bisa berbicara dan berdebat satu sama lain.

Yang paling menonjol adalah perilaku mereka yang cerdas dan terhubung langsung dengan puzzle serta sistem memancing musuh. Contohnya, jika zombie mematikan lampu di satu area, pemain bisa menyalakan lampu di area lain untuk menarik perhatiannya dan membuka jalan. Selain itu, ada zombie dengan profesi berbeda seperti koki, penyanyi, dan petugas kebersihan, masing-masing dengan perilaku dan serangan khusus. Mereka terasa seperti musuh elite yang menuntut pendekatan berbeda.

Map di preview ini tidak terlalu besar, dan sangat mengingatkan ke kantor polisi di Resident Evil 2. Area dibagi menjadi sayap timur, sayap barat, dan aula tengah, dengan banyak bagian kecil yang saling terhubung. Progresi berjalan bertahap, membuka area demi area.

Terutama di bagian Grace, struktur klasiknya sangat terasa. Pemain sering harus menuju Area A, mendapati pintu terkunci, lalu menjelajah Area B untuk menemukan item kunci sebelum kembali membuka jalur baru. Pola ini memperkuat nuansa survival horror dan mendorong eksplorasi yang hati-hati.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, pengalaman preview ini terasa sangat menyenangkan. Sebagai penggemar lama Resident Evil, pengaruh dari banyak seri sebelumnya terasa jelas. Gameplay Leon membawa kembali rasa Resident Evil 4 dan Resident Evil 6, sementara pendekatan Grace sangat kental dengan atmosfer Resident Evil 2 dan Resident Evil 7. Pergantian gaya bermain ini membuat pengalaman tetap segar dan seimbang.

Hal yang paling mengejutkan justru datang dari ide-ide barunya. Perilaku zombie yang lebih pintar, kemampuan mereka untuk berinteraksi satu sama lain, serta dorongan untuk memanfaatkan stealth dan lingkungan membuat Resident Evil Requiem terasa berbeda tanpa kehilangan identitasnya.

Dari sesi preview ini, Resident Evil Requiem terlihat sebagai game yang menghormati warisan seri sekaligus berani mencoba hal baru. Perpaduan aksi dan horor lewat dua karakter dengan gaya bermain yang sangat kontras memberi sudut pandang berbeda dalam satu lokasi yang sama, dan sejauh ini, hasilnya terasa sangat menjanjikan.


Sementara untuk penantian rilis gamenya sendiri, Resident Evil Requiem akan tiba pada 27 Februari 2026 untuk PlayStation 5, Xbox Series, dan PC. Kamu bisa pantau segala perkembangan terupdate mengenai gamenya lewat website resmi mereka DI SINI.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.

Hi guys, kami akhirnya sudah punya akun X dan YouTube resmi! Langsung saja follow:

 

 




Jangan lupa untuk cek channel TikTok kami!

@gamerwk_id

Artikel ini Rangkuman Dari Berita : https://gamerwk.com/preview-resident-evil-requiem-dua-gaya-bermain-satu-lokasi-dan-teror-yang-konsisten/

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *