Two Point Museum selalu merangkul hal-hal absurd dan menggabungkan desain simulasi yang cerdas dengan humor satir untuk menciptakan game manajemen yang tidak pernah terlalu serius. Dengan DLC terbarunya yang diberi judul Zooseum, pihak developer di Two Point Studios membawa konsep museum ke ranah yang benar-benar konyol. Daripada sekedar memamerkan peninggalan kuno, fosil berdebu, atau seni klasik, Zooseum meminta pemain menjalankan museum yang menampilkan hewan hidup. Jadi pada dasarnya para pemain diminta menciptakan kebun binatang indoor pertama di dunia yang diperlakukan layaknya pameran seni. Hasilnya kocak, sering kali kacau, kadang melelahkan, tapi hampir selalu menyenangkan.
Berlatar di Silverbottom Park, Zooseum diposisikan sebagai ekspedisi ke alam liar. Pemain tidak akan lagi sekedar mendekorasi museum, karena mereka kali ini harus terjun ke hutan untuk menangkap hewan sungguhan, merawatnya, lalu membangun habitat yang ideal agar bisa dipamerkan kepada publik. Meski fondasinya tetap memadukan humor khas Two Point dengan mekanik manajemen, Zooseum mengubah suasana permainan dengan memberimu makhluk hidup yang harus dirawat, sehingga ini jadi sebuah lapisan gameplay baru yang terasa segar sekaligus menantang.
Museum Rasa Kebun Binatang
Premis Zooseum sederhana tapi efektif. Daripada berkutat benda-benda statis, kini pemain mengelola pameran berisi hewan hidup yang diselamatkan dari ekspedisi ke Farflung Isles. Meski temanya berubah, gamenya tetap terasa sangat “museum” karena semua kegiatan baik itu dari arsitektur interior hingga area pameran yang berlangsung di dalam ruangan. Perpaduan ini menciptakan dinamika unik karena tata letaknya terstruktur seperti museum, tapi kekacauannya datang dari usaha membuat hewan-hewan yang tidak terduga tetap bahagia di dalam ruang yang lebih terisolasi dari habitat asli. Hasilnya adalah suasana khas Two Point yang aneh, menawan, dan langsung menarik perhatian.

Tema baru ini juga memungkinkan reinterpretasi lucu dari elemen museum klasik. Jadinya daripada memulihkan artefak tua, kamu perlu merawat hewan-hewan yang cedera. Dan daripada mendesain galeri seni, kamu perlu membangun terarium dan habitat lengkap dengan pencahayaan, dekorasi, dan kondisi lingkungan yang sesuai. Arah baru ini membuat Zooseum terasa lebih dari sekedar “DLC tambahan” karena pengalaman yang ditawarkan benar-benar memperluas premis dari Two Point Museum.
Terarium, Habitat, dan Micromanagement Hewan
Apa yang paling menonjol dari Zooseum adalah perluasan sistem manajemennya. DLC ini memperkenalkan dua jenis pameran baru yaitu Terarium dan Habitat, dengan masing-masing di antaranya dibuat untuk kebutuhan spesies yang berbeda. Hewan bukan sekedar dekorasi, karena mereka punya preferensi, tingkah laku, bahkan penyakit unik dari Farflung Isles. Beberapa datang dengan Farflung Flu, sehingga membuat mereka tampak lemah dan tidak layak dipamerkan. Hewan seperti ini harus dirawat terlebih dahulu hingga pulih, sehingga ini jadi proses yang memberi nuansa progression memuaskan untuk setiap makhluk.

Setelah sehat, hewan harus ditempatkan di kandang dengan biome dan dekorasi yang cocok, misalnya padang pasir atau hutan, atau dekorasi padat vs. minimalis. Beberapa hewan ingin tinggal bersama ras sesamanya, sementara yang lain lebih fleksibel meski harus sendiri. Kombinasi sosial dan lingkungan ini memaksa pemain berpikir lebih matang soal desain pameran, sehingga membuat proses membangun terasa lebih mendalam daripada sebelumnya.

Kompleksitas ini juga ikut menjalar ke manajemen staf. Wildlife Expert mengurus pemberian makan dan kebersihan habitat, sehingga penting untuk menaikkan level mereka. Tapi tantangan terbesar ada pada logistik, karena setiap terarium dan habitat harus dibuat di workshop, dan tiap struktur punya kapasitas tersendiri. Semakin banyak hewan yang kamu miliki, maka semakin besar tekanan untuk membangun, memindahkan, memperbesar, atau mengganti kandang. Kekacauan bisa meningkat pesat, terutama ketika banyak hewan butuh relokasi atau habitat perlu penataan ulang secara mendadak.
Micromanagement kadang terasa menegangkan dan melelahkan, tapi justru di sinilah Zooseum bersinar dan memberikan kedalaman yang lebih besar daripada DLC sebelumnya. Ini terutama akan dirasakan para pemain veteran yang ingin mendapat kesempatan untuk memaksimalkan insting manajemennya.
Progression Singkat Tapi Memuaskan
Dari sisi progression, Zooseum memuaskan meski terasa singkat. Objektif bintang cukup mudah diselesaikan, terutama karena ekspedisi ke Farflung Isles hampir selalu memberikan hewan lengkap dalam satu perjalanan. Jika dibandingkan dengan konten sebelumnya seperti Bone Belt, di mana fosil yang tidak lengkap memaksa pemain melakukan ekspedisi berulang, Zooseum terasa lebih cepat dan lebih murah hati.

Tapi ritmenya mulai kacau di tahap akhir. Pada akhirnya pemain diwajibkan kembali ke museum lama dan menaikkan rating bintangnya sebelum bisa melanjutkan level-level Zooseum. Ini memotong alur permainan dan bisa membuat pemain yang ingin fokus pada DLC merasa terganggu. Jadinya daripada seperti progres yang mengalir, pengalaman terasa tersendat sehingga ini jadi sebuah kekurangan kecil namun cukup terasa.
Penulisan, Humor, dan Penyajiannya
Humor khas Two Point tetap menjadi daya tarik utama. Narator yang selalu hadir tetap menyampaikan komentar cerdas yang tidak terlalu kasar, tidak kekanak-kanakan, dan dikemas dengan gaya yang langsung dikenali para fans. Peralihan ke tema hewan memberi warna baru, menghasilkan banyak momen kocak, setidaknya kamu punya waktu untuk mendengarnya.

Sayangnya, karena Zooseum sangat padat manajemen, sebagian besar humor bisa tenggelam di tengah kesibukan. Mengedit habitat, memindahkan hewan, dan mengurus kebutuhan yang bertumpuk membuat lelucon narator mudah terlewat. Humor tetap menyenangkan dan memberi warna, tapi intensitas gameplay kadang menyainginya.
Performa dan Kenyamanan Bermain
Dari sisi performa, Two Point Museum: Zooseum berjalan cukup baik meski tetap berat di CPU, terutama di akhir permainan ketika jumlah pengunjung membludak dan kami harus bolak-balik mengelola banyak museum. Perpindahan antar-museum terasa lambat, tapi hal ini bisa dimaklumi mengingat ukuran map yang harus dimuat.
Dalam versi Beta, ada beberapa bug, seperti teks UI yang hilang atau item yang lenyap saat dipindahkan. Masalah-masalah ini cukup kecil dan diperkirakan akan diperbaiki pada rilis final. Meski begitu, Zooseum tetap terasa cukup halus. Pathfinding AI, perilaku staf, dan navigasi habitat tampak meningkat, membuat simulasi lebih stabil secara keseluruhan.
Kesimpulan

Two Point Museum: Zooseum adalah ekspansi yang menawan, kacau, dan mengejutkan dalam hal kedalaman. DLC ini berhasil membayangkan ulang bagaimana game manajemen museum bisa bekerja. Dengan mekanik baru, sistem yang menyenangkan, dan sentuhan unik berupa hewan sebagai bintang utama, Zooseum memberi pengalaman segar. Meski kampanyenya terasa singkat dan keharusan kembali ke museum lama mengganggu alur, keseluruhan pengalaman tetap sangat menghibur.
Bagi penggemar game manajemen, Zooseum menawarkan perpaduan strategi dan kekonyolan yang memikat. Dan bagi pecinta hewan, DLC ini menghadirkan cara baru yang menggemaskan untuk merawat makhluk dalam dunia Two Point. Ini adalah sensasi bermain baru yang kuat dan sukses memperkaya game utamanya yang semoga bisa jadi standar konsisten untuk semua produk mereka di masa depan.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id
The Review
Two Point Museum: Zooseum
PROS
- Pendekatan konsep museum yang kreatif dan unik dengan tema kebun binatang
- Sistem terarium dan habitat yang memperkaya kedalaman gameplay manajemen
- Penulisan cerita dan humor khas Two Point yang masih sangat terasa
- Kayak dengan mekanisme gameplay baru untuk memperkuat tantangan di sisi manajemen mikro
- Sisi performa yang masih solid dengan peningkatan kualitas AI
CONS
- Manajemen mikro yang bisa terasa mengintimidasi
- Penggunaan CPU meningkat terlalu pesat saat mencapai progress jauh
Artikel ini Rangkuman Dari Berita : https://gamerwk.com/review-two-point-museum-zooseum/