[TGS 2025] Wawancara Ghost of Yōtei dengan Aktris Erika Ishii - Bicara Tentang Atsu, Dendam, dan Perjalanan Sinematik

Ketika Ghost of Tsushima rilis pada 2020 lalu, sosok Jin Sakai langsung menancap kuat di benak para pemain sebagai salah satu pahlawan baru PlayStation yang ikonik. Lima tahun kemudian, warisan itu berlanjut lewat Ghost of Yōtei, di mana pemain akan bertemu dengan protagonis baru: Atsu, sang Onryō yang diperankan oleh Erika Ishii.

Pada ajang Tokyo Game Show 2025, kami berkesempatan wawancara langsung dengan Erika Ishii, aktris yang mengisi suara sekaligus melakukan motion capture untuk Atsu. Dari tantangan memerankan karakter yang lahir dari dendam, sampai sisi lembut yang membuatnya terasa manusiawi, Ishii membagikan banyak cerita yang membuat perjalanan Atsu terdengar semakin menarik.

Menapaki Warisan Besar Ghost

Buat Erika Ishii, masuk ke dunia Ghost of Yōtei jelas bukan sekadar proyek biasa. Ia langsung mengaku kalau awalnya sempat diliputi rasa takut. “Jujur, saya sangat ketakutan,” katanya sambil tertawa kecil. “Saya penggemar berat Ghost of Tsushima dan juga kagum dengan akting Daisuke Tsuji sebagai Jin. Awalnya itu terasa sangat menekan, tapi begitu saya mulai kerja bareng penulis dari tahap awal, semuanya terasa lebih jelas. Atsu berbeda sekali dengan Jin—dia tidak puitis, tidak menjunjung kehormatan, dan dalam banyak hal jauh lebih belum matang. Justru perbedaan itu yang bikin saya lebih percaya diri untuk menjalani warisan besar ini.”

Kalau Jin dikenal lewat keteguhan hati dan kehormatannya, Atsu hadir sebagai kebalikannya. Ia lebih dekat dengan kekacauan, penderitaan, dan perjalanan menuju pertumbuhan pribadi. Perbedaan inilah yang nantinya jadi identitas kuat Atsu di mata para pemain.

Dari Dendam ke Kemanusiaan

Di awal cerita, Atsu dikenal dengan julukan “the Onryō”, sosok yang dipenuhi dendam. Namun seiring perjalanan, karakter ini berkembang menjadi seseorang dengan tujuan baru. Ishii memuji tim kreatif yang sudah menyiapkan jalur perjalanan karakter ini sejak awal. “Mereka memberikan saya peta perjalanan emosional Atsu sejak pertama kali,” jelasnya. “Rekaman tidak dilakukan secara berurutan—kadang saya merekam adegan dari akhir cerita lebih dulu, lalu besoknya kembali ke bagian awal. Tapi karena saya tahu di titik mana Atsu berada dalam perjalanannya, saya tetap bisa menjaga konsistensi.”

Bagi Ishii, pengalaman ini jadi kesempatan untuk menggali seluruh spektrum emosi manusia. “Sebagai aktor, momen dramatis seperti menangis, marah, atau hancur itu justru yang dicari. Tapi yang saya suka, meskipun adegannya berat dan penuh tragedi, di balik layar suasananya sangat menyenangkan. Antara take, semua tertawa dan saling menyemangati. Jadi walau ceritanya gelap, prosesnya justru penuh keceriaan.”

Mencari Keseimbangan dalam Atsu

Meski berangkat dari dendam, cerita Atsu bukan hanya soal pembalasan. Ada sisi lain yang lebih lembut ketika ia berinteraksi dengan karakter pendukung seperti Wolf dan Huci. Dari situ terlihat kalau di balik wajah kerasnya, masih ada sisi rapuh yang manusiawi. “Bisa memainkan karakter yang tidak satu dimensi itu hadiah besar buat saya,” ucap Ishii. “Di dalam dirinya, Atsu sebenarnya masih anak kecil yang ketakutan. Mengingat kenangan bahagia masa kecilnya membantu saya menjaga sisi kemanusiaannya, meski di permukaan dia dipenuhi amarah.”

Ishii berharap pemain bisa merasakan lapisan-lapisan itu ketika menjelajahi dunia dalam game. “Lanskap Ezo di game ini terasa seperti karakter itu sendiri. Saya ingin pemain benar-benar meluangkan waktu untuk menjelajahinya. Tim menciptakan sesuatu yang indah, dan sangat layak untuk dinikmati pelan-pelan.”

Inspirasi dari Sinema Samurai

Untuk mendalami peran Atsu, Ishii kembali menyelami akar budaya samurai. “Saya penggemar berat film Kurosawa, jidaigeki, bahkan anime seperti Samurai Champloo,” ungkapnya. “Saya tumbuh dengan tradisi samurai-western itu. Jadi bisa dibilang, pekerjaan rumah saya justru menyenangkan, karena artinya saya bisa menonton ulang film favorit saya. Dan saya rasa kecintaan itu sangat berpengaruh ke penampilan saya, mungkin bahkan jadi alasan saya lolos audisi.”

Soal gaya bertarung, Ishii langsung menunjuk pilihannya: dua katana ala Musashi. “Saya suka romansa dari gaya dua pedang. Tidak biasa, berani, dan itu sangat mencerminkan Atsu.”

Peran yang Dekat di Hati

Dari sekian banyak peran yang pernah ia jalani, Ishii merasa Atsu adalah yang paling personal. “Saya belum pernah memerankan karakter yang wajahnya mirip saya dan bergerak seperti saya,” ujarnya. “Biasanya di game, aktor tidak tahu apa yang sedang mereka kerjakan. Kita datang, membaca dialog yang terpisah, lalu selesai. Tapi dengan Atsu, saya benar-benar ikut dari awal sampai akhir. Rasanya dekat sekali dengan hati saya.”

Meski ia tidak membawa energi penuh dendam Atsu ke kehidupan nyata, Ishii mengaku akan merindukannya. “Sebagai aktor, saya biasanya bisa mematikan peran begitu pekerjaan selesai. Tapi Atsu terasa seperti teman baik sekarang. Kami berbeda, tapi saya senang bisa hidup bersamanya selama ini.”

Meneruskan Mantel Sang Ghost

Mengisi peran “the Ghost” jelas bukan hal mudah, apalagi setelah Jin Sakai begitu dicintai penggemar. Namun bagi Ishii, ini sebuah kehormatan besar. “Saya suka cerita antologi—tentang legenda yang tumbuh menjadi sesuatu lebih besar dari satu orang. Jadi bisa jadi bagian dari warisan itu adalah sebuah kehormatan. Memang menakutkan, tapi juga sangat memuaskan.”

Ia masih ingat betul hari pertama di panggung motion capture. “Saya penggemar berat game-game Sony, jadi bisa masuk ke sound stage Sony terasa seperti mimpi jadi nyata. Awalnya bikin tegang, tapi dengan cepat berubah jadi pengalaman menyenangkan. Kru di sana membuat saya merasa di rumah.”

Menatap ke Depan untuk Ghost of Yōtei

Ghost of Yōtei review

Ishii mengaku belum sempat melihat semua set armor Atsu di dalam game, tapi ia sangat antusias menunggu reaksi para pemain. “Saya suka fashion show, dan desain-desain armor di game ini luar biasa indah. Saya tidak sabar melihat gaya apa yang paling disukai pemain.”

Kalau ditanya apa yang paling ia harapkan dari perjalanan Atsu, Ishii berharap pemain bisa menikmati proses penemuan itu sendiri. “Nikmati waktumu. Jelajahi dunia. Biarkan cerita Atsu terbuka dengan ritme kalian sendiri. Ada amarah, ada kesedihan, tapi juga ada harapan dan kebahagiaan. Itu yang membuat kisah ini—dan game ini—begitu istimewa.”

Wajah Baru Sang Ghost

Lewat Ghost of Yōtei, Erika Ishii bukan hanya menghidupkan sosok Atsu, tapi juga mendefinisikan ulang arti dari titel The Ghost. Dengan menggabungkan dendam, kerentanan, dan sisi manusiawi yang dalam, Atsu bukan sekadar penerus Jin Sakai, melainkan legenda baru yang siap berdiri dengan kekuatannya sendiri.

Erika Ishii – Atsu Voice Actress

Itulah wawancara kami dengan Erika Ishii. Ghost of Yōtei rilis pada 2 Oktober untuk PS5. Kamu bisa baca review kami selengkapnya DI SINI. Kamu juga bisa kunjungi situs resminya DI SINI untuk berbagai informasi lebih lanjut.

Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.



Borderlands 4 Rilis 12 September!


Ingin mendapat update terkini dari Borderlands 4? Halaman all-in-one kami sudah merangkum berita, gameplay, ulasan, hingga perbandingan edisi penjualan yang bisa membantumu mendapat semua informasi sebelum memutuskan untuk terjun ke gamenya!



Kunjungi Halaman


Sampai jumpa di Kairos!



Hi guys, kami akhirnya sudah punya akun Twitter dan YouTube resmi! Langsung saja follow:

 

 




Jangan lupa untuk cek channel TikTok kami!

@gamerwk_id

Artikel ini Rangkuman Dari Berita : https://gamerwk.com/tgs-2025-wawancara-ghost-of-yotei-dengan-aktris-erika-ishii-bicara-tentang-atsu-dendam-dan-perjalanan-sinematik/

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *