Ketika RGG Studio mengumumkan Yakuza Kiwami 3 bersama spin-off Dark Ties, para fans langsung hype. Bagaimana tidak, game yang dulunya hanya ada di era PlayStation 3 sekarang dihidupkan kembali dengan kualitas modern, ditambah cerita baru yang mengeksplor salah satu karakter antagonis favorit, Yoshitaka Mine.
Kami mendapatkan kesempatan wawacara dengan Ryosuke Horii pada ajang Tokyo Game Show 2025 untuk bahas lebih dalam soal Yakuza Kiwami 3 & Dark Ties, sang produser sekaligus sutradara, yang banyak berbagi cerita di balik layar tentang keputusan kreatif, tantangan, dan bagaimana mereka ingin membuat pengalaman ini fresh untuk pemain lama maupun pendatang baru.
Okinawa, Akar Tradisi, dan Gaya Bertarung Baru

Salah satu hal yang langsung mencuri perhatian adalah kehadiran Ryukyu Style, gaya bertarung baru untuk Kiryu. Horii menjelaskan kalau ide itu muncul saat mereka meneliti budaya Okinawa sebagai setting utama game. “Waktu kami riset, ternyata Okinawa punya seni bela diri tradisional dengan senjata yang sudah ada sejak lama,” ujarnya.
Dari sana mereka merasa seru kalau gaya itu bisa dijadikan tema dan melengkapi gaya brawler klasik Kiryu. Hasilnya, pertarungan di Kiwami 3 bukan cuma lebih beragam, tapi juga terasa nyambung dengan atmosfer lokal.

Selain itu, Horii menekankan kalau remake ini bukan sekadar polesan visual. Ada banyak skenario baru yang ditambahkan, bahkan di jalur cerita utama pun pemain bakal merasakan perbedaan signifikan dibanding Yakuza 3 versi orisinal. Intinya, meski sudah pernah main versi lama, pengalaman kali ini bakal terasa segar.
Tantangan Berat Merilis Dua Game dalam Satu Tahun

Buat RGG Studio, proyek ini bukan pekerjaan ringan. Tantangan terbesarnya, kata Horii, adalah merilis Kiwami 3 dan Dark Ties dalam kurun waktu satu tahun. “Kecepatan produksi jadi halangan utama, tapi lebih dari itu kami harus hati-hati menyeimbangkan apa yang harus dipertahankan dari versi lama dengan apa yang harus diubah demi pengalaman terbaik,” jelasnya.
Hal itu terutama berlaku untuk karakter kesayangan penggemar seperti Rikiya Shimabukuro. Mereka memang mendesain ulang wajahnya, tapi Horii sadar betul bahwa banyak fans punya ikatan emosional dengan karakter tersebut. “Kami ingin pemain merasa menemukan sisi baru dari Rikiya, tapi tanpa kehilangan apa yang mereka cintai sejak dulu,” tambahnya.
Antara Nostalgia dan Aksesibilitas

Salah satu pertanyaan klasik ketika bicara soal remake adalah: apakah ini ramah buat pendatang baru? Horii menjawab dengan yakin. Menurutnya, meski seri Yakuza sudah panjang, Kiwami 3 tetap bisa dinikmati siapa pun.
Game ini punya ringkasan cerita Yakuza 1 dan 2, jadi pemain baru tidak akan kebingungan. Ditambah lagi, dengan kehadiran Kiwami 1 dan 2 di Switch 2, plus rencana rilis Kiwami 3 di platform yang sama, seri ini bisa dimainkan dengan lengkap oleh generasi baru pemain.
Gelap, Brutal, tapi Juga Menyentuh

Salah satu ciri khas Yakuza adalah campuran antara drama politik yang berat dengan pertarungan brutal penuh darah. Kiwami 3 sengaja dibangun dengan tema “return to roots,” alias kembali ke akar, dengan penekanan pada kekerasan bergaya khas Yakuza. Tidak ada lagi eksperimen aneh seperti Yakuza Pirate, kali ini mereka ingin menghadirkan nuansa gelap yang murni.
Spin-off Dark Ties pun ikut membawa semangat itu. Fokusnya memang pada Yoshitaka Mine, sosok yang di game aslinya dikenal kalem tapi penuh karisma. Horii ingin menggali sisi tersembunyi dari karakter itu. “Mine biasanya tenang, gaya bertarungnya elegan seperti tinju. Tapi di balik wajah dinginnya, ada sisi liar yang kami ekspresikan lewat serangan besar yang emosional,” ungkapnya. Dari situlah Dark Ties mencoba memperlihatkan sisi berbeda seorang antagonis yang ternyata punya banyak penggemar.
Side Story, Minigame, dan Kehangatan Morning Glory

Kalau bicara soal Yakuza, pasti tidak bisa lepas dari aktivitas sampingan yang kadang kocak, kadang menyentuh. Kiwami 3 menghadirkan kembali berbagai sub-story, tapi kali ini banyak yang ditulis ulang agar sesuai standar cerita masa kini. Bahkan ada aktivitas baru yang cukup unik seperti “Tsuppari no Ryuu” alias Bad Boy Dragon, di mana Kiryu mengumpulkan geng untuk menghadapi kelompok yankee.
Selain itu, ada juga pengembangan besar pada Morning Glory Life, kisah interaksi Kiryu dengan anak-anak yatim piatu di panti asuhan. Horii bilang bagian ini dulunya kurang dalam, jadi sekarang mereka benar-benar mengembangkannya. “Ada banyak momen yang menyentuh hati bersama anak-anak, jadi tolong nantikan,” ucapnya.
Menjaga Fans Lama, Mengundang Fans Baru

Horii mengakui kalau penggemar lama punya ekspektasi tinggi. Karena itu, mereka melakukan rekaman ulang banyak adegan dengan aktor suara Kiryu, Kuroda Takaya, agar drama lebih kuat.
Gameplay juga dibuat lebih mudah didekati, dengan fitur ringkasan cerita, sistem pertarungan yang lebih ramah untuk pemula, hingga aktivitas di luar pertarungan yang tetap memberikan progres. Dengan begitu, siapa pun bisa menikmati game ini, entah mereka hardcore veteran atau pemain yang baru kenal Kiryu.
Harapan untuk Fans Asia Tenggara

Menutup wawancara, Horii menyampaikan pesan khusus untuk penggemar di Asia Tenggara. Ia berharap dukungan terus mengalir, karena tim sudah menambahkan berbagai konten yang mencampur kehangatan dan kesedihan, dari drama anak-anak Morning Glory sampai dilema berat yang harus dihadapi Kiryu. “Kami benar-benar berharap kalian bisa menikmati pengalaman ini, dan terus mendukung kami,” tutupnya.

Yakuza Kiwami 3 & Dark Ties akan dirilis pada 12 Februari 2026 untuk PS4, PS5, Xbox Series, Switch 2, PC. Kamu bisa kunjungi situs resminya DI SINI untuk berbagai informasi lebih lanjut.
Pastikan untuk mengikuti perkembangan berita game lainnya di Gamerwk.
@gamerwk_id
Artikel ini Rangkuman Dari Berita : https://gamerwk.com/tgs-2025-wawancara-yakuza-kiwami-3-dark-ties-dengan-ryosuke-horii-bukan-sekadar-spin-off-dengan-segudang-hal-baru/